Cakrabuwana’s Weblog

TATARAN LINGUISTIK (2):MORFOLOGI

Posted on: September 29, 2008

Ringkasan

TATARAN LINGUISTIK (2):

MORFOLOGI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Linguistik Umum

Oleh:

Diyah Novita Sari

1402408269

1E Reguler

Rombel 01

PENIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2008

TATARAN LINGUISTIK (2):

MORFOLOGI

Kita kembali dulu melihat arus ujaran yang diberikan pada bab fonologi yang lalu[keduaorangitumeninggalkanruangsidangmeskipunrapatbelumselesai].Secara bertahap kita telah kita segmentasikan arus ujaran itu,sehingga akhirnya kita dapatkan satuan bunyi terkecil dari arus ujaran yang disebut fonem.Diatas satuan fonem yang fungsional itu ada satuan yang lebih tinggi, yang disebut silabel.Tetapi silabel tidak bersifat fungsional,hanyalah satuan ritmis yang ditandai dengan adanya satu sonoritas atau puncak penyaringan.Diatas satuan silabel itu secara ada satuan lain yang fungsional yang disebut morfem.Morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna.Karena dalam proses morfemis atau proses morfologis itu akan terlibat juga persoalan fonologi, maka akan dibicarakan juga proses yang disebut morfofonemi, atau proses morfofonologi, atau morfonologi.

5.1. MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morfem mempunyai makna filosofis.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan,kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain apabila bila hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.Contoh bentuk [kedua],dalam ujaran diatas kita bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut.

kedua

ketiga

kelima

ketujuh

kedelapan

Ternyata semua bntuk ke pada daftar diatas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat dan derajat.dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas,bisa disebut sebagai sebuah morfem.Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.Misalnya,kata Indonesia mesjid dilambangkan sebagai {mesjid};kata kedua dilambangkan menjadi ({ke} + {dua}).Selama morfem itu berupa morfem segmental hal itu mudah dilakukan

5.1.2 Morf dan Alomorf

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama itu disebut alomorf.Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem.Jadi,setiap morfem tentu mempunyai alomorf, entah satu, entah dua, atau juga enam buah.Selain itu bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalahdua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama.Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya;sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria.Antralain berdasarkan kebebasannya, keutuhannya, maknanya, dan sebagainya.Berikut penjelasan singkatnya.

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Yang dimaksud dengan morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah termasuk morfem bebas.Sebaliknya, yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.Begitu juga dengan morfem penanda jamak dalam bahasa inggris, seperti yang kita bicarakan diatas, termasuk morfem terikat.

Untuk morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan.Yaitu:

Pertama,bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur termasuk morfem terikat,meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, sperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.Bentuk seperti ini lazim disebut bentuk prakategorial (lihat Verhaar 1978)

Kedua,menurut konsep Verhaar (1978) bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial,karena bentuk tersebut baru merupakan “pangkal” kata,sehingga baru bias muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.

Ketiga,bentuk-bentuk seperti renta,(yang hanya muncul dalam tua renta)dan kerontang(yang hanya muncul alam kering kerontang) juga termasuk morfem terikat.Lalu, karena hanya bias muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut morfem unik.

Keempat, bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan, kalau, dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

Kelima, klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain,tetapi dapat dipisahkan.Misalnya,klitika –lah dalam bahasa Indonesia,posisinya dalam kalimat Ayahlah yang akan datang dapat dipisah dari kata ayah,misalnya menjadi Ayahmulah yang akan datang.Menurut posisinya,klitika dibedakan atas proklitika dan enklitika.Proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti,seperti ku dan kau pada konstruksi kubawa dan kuambil.Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati, seperti –lah, -nya, dan –ku pada konstruksi dan dialah, duduknya, dan nasibku.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Pembedaan keduanya berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut;apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi,karena disisipi morfem lain.Yang terasuk morfem utuh,seperti {meja},{kursi},{kecil},{laut}, dan {pinsil}.Beitu juga dengan sebagian morfem terikat,seperti {ter-}, {ber-}, dan {juang}.Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.Misalya,kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh, yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Perbedaan kedua morfem ini berdasarkan jenis fonem yang membentuknya.Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat},{lah},{sikat],dan [ber}.Jadi, semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental,seperti tekanan,nada,durasi,dan sebagainya.

5.1.3.4 Morfem Beralomorf Zero

Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau no (lambangnya 0),yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”.

5.1.3.5 Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Yang dimaksud morfem bermakna lesikal adalah morfem-morfem secara inheren telah memiliki makna pada diriya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.Misalnya,dalam bahasa Indonesia,morfem-morfem seperti {kuda},{lari},{pergi}, dan {merah}.Sedangkan morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri,baru mempunyai makna bila digabung dengan morfem lain. Dalam suatu proses morfologi.Yang biasa dimaksud morfem tak bermakna leksikal ini adalah morfem-morfem afiks, seperti {ber-},{me-}, dan {ter-}

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.Jadi, bentuk-bentuk seperti {juang},{kucing},dan{sikat}.Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi.Artinya, bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi.

Istilah bentuk dasar atau dasar saja biasa digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfem.Misal, kata berbicara yang terdiri dari morfem ber- dan bicara,maka bicara adalah menjadi bentuk dasar dari kata berbicara itu,yang kebetulan juga berupa morfem dasar.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses, atau proses pembubuhan afiks inflektif.Contoh dari bahasa Inggris,pada kata untouchables pangkalnya adalah untouchable.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya,baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.Misalnya, kata Inggris untouchable akarnya adalah touch

Ada tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar itu.

Pertama, morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran.Misalnya, morfem{meja},{kursi},{pergi}, dan{kunung}.

Kedua, morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan.Yang termasuk adalah sejumlah morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperatif atau kalimat sisipan, tidak perlu diberi imbuhan;dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

Ketiga, morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.Misalnya, morfem-morfem {juang,{henti,{gaul,dan{abai}.

    1. KATA

Yang ada dalam tata bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata.

      1. Hakikat Kata

Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi.Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.

Para tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran Bloomfield.Batasan kata yang dibuat Boomfield sendiri,kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat final.

Batasan kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguistik Eropa. Batasan tersebut menyiratkan dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Jadi, misalnya, kata sikat, urutan fonemnya adalah/s/,/i/,/k/,/a/,dan /t/. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat didalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh katq lain, atau juga dapat dipisahkan sdari kat lainnya. Misalnya, kalimat Nenek membaca komik itu kemarin. Kalimat itu terdiri dari 5 buah kata, yaitu, nenek, membaca,komik,itu, dan kemarin. Setiap kata mempunyai susunan dan urutan fonem yang tetap dan tidak dapat diubah tempatnya. Sebaliknya, posisi setiap kata dapat dipindahkan, disela atau dipisahkan.

      1. Klasifikasi Kata

Adalah penggolongan kata atau penjenisan kata; dalam istilah bahasa inggris disebut juga Part of Speech.

Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi.

kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verbal, nomina, dan adjectiva;sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbial, pronominal, dan lain-lain. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan; nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan; dan konjungsi adalah kata yang bertugas untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.Klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi.Misalnya, nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukan …Jadi, kata-kata seperti buku, pinsil dan nenek termasuk nomina,sebab dapat berdisribusi di belakang kata bukan itu.Begitu pula verba bila ada kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak.Dan ajektifa bila ada kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat.

      1. Pembentukan Kata

Agar dapat digunakan di alam kalimat atau pertuturan tertentu, setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi.Misalnya, untuk konstruksi kalimat…..itu berlangsung di Gedung Kesenian hanya nomina berkonfiks per-/-an yang dapat digunakan.

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua bersifat derivative.

5.2.3.1.Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi,seperti bahasa Arab, Latin, dan Sansekerta.Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa prefiks, infiks, dan sufiks; atau juga berupa modifikasi internal, yakni perubahan yang terjadi didalam bentuk dasar itu.Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyasuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.Contoh dalam bahasa Indonesia misalnya,dari kata air yang berkelas nomina ibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba;dari kata makan yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina.

    1. PROSES MORFEMIS

Berikut akan dibahas proses-proses morfemis yang berkenaan dengan afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intern.Kiranya perlu juga dibicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu.

      1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentukDalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar,(2) afiks (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Bentuk dasar atau dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, seperti meja, beli, makan, dan sikat.Dapat juga berupa bentuk kompleks, seperti terbelakang pada kata terbelakang.Dapat berupa frase, seperti ikut serta pada keikutsertaan.

Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif.Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional. Sebagai afiks derivative, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

Dilihat dar posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan transfiks.

  • Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar.

  • Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

  • Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

  • Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dassar.

Dalam bahasa Indonesia mengenai konfiks ini ada dua hal yang perlu diperhatikan.

      1. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

Istilah-istilah dalam Reduplikasi:

a). Dwilingga: Pengulangan morfem dasar, seperti meja-meja, aki-aki.

b). Dwilingga Salin Suara: Pengulangan morfem dasar dengan perubahan vocal dan fonem lainnya, seperti, bolak-balik, dan mondar-mandir.

c). Dwipurwa: Pengulangan silabel pertama seperti, lelaki, peparu, dan pepatah

d). Dwiwasana: Pengulangan pada akhir kata seperti, cengengesan.

e). Trilingga: Pengulangan morfem dasar sampai dua kali seperti, dag-dig-dug, dan cas-cis-cus.

Khusus untuk reduplikasi dalam bahasa Indonesia:

  1. bentuk dasar rreduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja menjadi meja-meja. surat-surat kabar menjadi kabar surat-kabar.

  2. bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya mungkin:

    1. proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan seperti pada bentuk berton-ton.

    2. proses reeduplikasi terjadi lebih dulu, baru disusul proses afiksasi, seperti pada berlari-lari.

    3. proses afiksasi terjadi lebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi, seperti pada kesatuan-kesatuan.

  3. pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa penuh, tetapi mungkin juga hanya berupa reduplikasi parsial.

  4. reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivational.

  5. Reduplikasi semantis, yaitu dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal.

  6. reduplikasi bisa berupa morfem bebas dan bisa berupa morfem terikat.

      1. Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru.

Dalam bahasa Indonesi proses komposisi ini sangat produktif karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya.

Produktifnya proses komposisi itu menimbulkan berbagai masalah dan pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda.

      1. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi, sering disebut derivasi zero, transmutasi, dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental.

Modifikasi Internal/ penambahan internal/ perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang bioasanya vocal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap ( yang biasanya berupa konsonan).

Ada sejenis modifikasi internal yang disebut suplesi. Dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi, atau berubah total.

      1. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah benuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya. Hal ini disebut kependekan. Misalnya, lab(Laboratorium).

Proses pemendekan ini biasanya dibedakan atas:

      • Penggalan: kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu.

      • Singkatan: hasil proses pemendekan, yang antara lain berupa:

        • pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf-huruf awal dari gabungan leksem.

        • Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem.

        • Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama.

        • Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.

        • Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem.

      • Akronim: adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dulafalkan sebagai kata. Wujudnya dapat berupa pengekalan huruf-huruf pertama, yaitu suku kata dari gabungan leksem, atau bisa juga tak beraturan.

Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif, dan terdapat hampir pada semua bahasa. Dalam bahasa Indonesia khususnya karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik.

      1. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relative tidak terbatas, artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses Inflektif/ paradigmatic: tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Proses ini bersifat tertutup

Proses derivasi: bersifat terbuka, penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

    1. MORFOFONEMIK

Disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

  1. pemunculan fonem: pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca.

  2. pelepasan fonem: pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah, dimana fonem /h/ pada kata sejarah hilang.

  3. peluluhan fonem: pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat, dimana fonem /s/ pada kata sikat diluluhkan.

  4. perubahan fonem: proses penimbuhan prefiks ber- pada ajar, dimana fonem /r/ dari prefiks itu berubah menjadi fonem /l/.

  5. dan, pergeseran fonem: pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya silabel berikutnya.

.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: