Cakrabuwana’s Weblog

SHOLIHAH DHIAN (1402408113) TATARAN LINGUISTIK SEMANTIK

Posted on: Oktober 9, 2008

SHOLIHAH DHIAN
(1402408113)
TATA RAN LINGUISTIK SEMANTIK
Letak semantik yaitu dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau semua tataran yang bangun-membangun ini: makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Oleh karena itu, penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat. Sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran tidak sama. oleh karena itu para linguis strukturalis tidak begitu peduli dengan masalah makna ini, karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun itu. Hockett (1954), salah seorang tokoh struktiralis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa ini terdiri dari
lima subsistem, yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan subsistem fonetik. Kedudukan kelima subsistem itu tidak sama derajatnya. Subsistem gramatika, fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral. Sedang subsistem semantik dan fonetik bersifat periferal. Subsistem semantik disebut bersifat periferal adalah karena seperti pendapat kaum strukturalis umumnya, bahwa makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tidak dapat diamati secara empiris, sebagaimana subsistem gramatika (morfologi dan sintaksis). Demikian juga dengan Chomsky, bapak linguistik transformasi, dalam buku yang pertama (1957) tidak menyinggung masalah makna. Dalam buku kedua (1965) beliau menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi) dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini.
Sejak Chomsky menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik, maka studi semantik sebagai bagian dari studi linguistik menjadi semarak. Teori Bapak Linguitik Modern Ferdinand de Saussure, bahwa tanda linguistik (sign linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie. Sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1. Hakikat Makna
Menurut de Saussure setiap tanda linguistik/tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu kompenen signifikan atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep. Tanda linguistik berupa(ditampilkan dalam bentuk ortografis) <meja>, terdiri dari runtutan fonem /m/, /e/, /j/, dan /a/ dan signifie berupa makna/konsep sejenis perabot kantor/rumah tangga.

7.2. JENIS MAKNA
Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
Makna Leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya leksem kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’. Dari contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Banyak orang yang mengatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus. Makna Gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Makna Kontekstual adalah makna sebuah leksem yang berada di dalam satu konteks. Contoh:
Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu.
Makna Referensial dan Non-Referensial
Sebuah kata atau leksem dikatakan bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens. Kata deiktik: kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu ke maujud yang lain. Yang termasuk kata deiktik adalah kata pronomina seperti disini, disana, dan kamu; kata yang menyatakan ruang: disini, disana, disitu; kata yang menyatakan waktu seperti sekarang, besok, nanti; kata yang disebut kata penunjuk seperti ini dan itu.
Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata babi bermakna denotatif sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk diambil dagingnya. Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata babi, oleh orang Islam mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan tidak enak saat mendengar kata itu.
Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’ dan kata rumah memiliki makna konseptual ‘bengunan tempat tinggal manusia’. Jadi makna kontekstual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian; kata merah berasosiasi dengan berani atau juga paham komunis. Oleh Leech (1976) kedalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut konotatif, makna stilistika, makna afektif dan makna koloaktif.
Makna asosiatif: karena kata-kata berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata lain.
Makna stilistika: berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan.
Makna efektif: berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terada dalam bahasa lisan.
Contoh: “Tutup mulut kalian!” bentaknya pada kami.
“Coba, mohon diam sebentar!” katanya pada kami.
Makna koloaktif: berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.
Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna. Pada awalnya yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun dalam penggunaannya makna kat itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.
Contoh: “Tangannya luka kena pecahan kaca”
” Lengannya luka kena pecahan kaca”
Jadi, kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim, atau bermakna sama.
Makna yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks.
Makna Idiom dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Idiom dibedakan menjadi 2 yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan diom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimilikin berasal dari seluruh kesatuan itu. Contoh idiom penuh : membanting tulang, menjual gigi, meja hijau. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri misalkan buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

7.3. RELASI MAKNA
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa disini dapat berupa kata frase maupun kalimat; dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna. Pertentangan makna, ketercakupan makna, kegandaan makna atau juga kelebihan makna. Relasi makna biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti, dan redundansi.
Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Misalnya antara kata betul dengan kata benar. Contoh dalam bahasa Inggris antara kata freedom dan liberty.
Relasi sinonimi bersifat dua arah, maksudnya kalau satu ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B dan sebaliknya. Secara konkret kalau kata betul bersinonim dengan kata benar, kata benar bersinonim dengan kata betul.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. kesamaan itu terjadi karena berbagai faktor.

Faktor waktu
Faktor tempat atau wilayah
Faktor keformalan
Faktor sosial
Faltor bidang kegiatan
Faktor nuansa makna
Antonim
Antonim adalah hubungan semantikatau antonimi antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup. Sifat antonim dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya kata hidup berantonim dengan kata mati, sebab segala sesuatu yang masih hidup tentu belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentu sudah tidak hidup lagi.
Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonimi secara relatif. Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas. Batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Karena itu, sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil, dan sesuatu yagng tidak dekat belum tentu jauh. Karena itu pula kita dapat mengatakan misalnya lebih dekat, sangat dekat, atau juga paling dekat.
Antonim yang bersifat hierarkial. Umpama kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial. Antonimi jenis ini disebut bersifat hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki.
Polisemi
Dalam kasus ini biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya, makna leksikalnya, makna denotatifnya atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkanberdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu.
Homonimi
Homonimi adalah 2 buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna “inai” dan kata pacar dan yang bermakna “kekasih”.Jadi kalau pacar yang bermakna “inai”berhomonim dengan kata pacar yang bermakna “kekasih”.Maka,pacar yang bermakna “kekasih” berhomonim dengan kata yang bermakna “inai”
· Homofoni
Adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan.
Homografi
Mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.
~ Hiponimi
Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Misalnya:kata merpati mencakup dalam kata burung jadi merpati adalah hiponim dari burung dan burung berhipernim dengan merpati.
~Ambiguiti dan ketaksaan
Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tefsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh:buku sejarah baru
Dapat ditafsirkan:1 buku sejarah itu baru terbit.
2 buku itu memuat sejarah zaman baru.
~ Redundansi
Istilah redudansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Misal:kalimat bola itu ditendang oleh dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika.Jadi tanpa penggunaan preposisi”oleh”.Penggunaan kata “oleh”inilah yang dianggap redudansi,berlebih-lebihan.
7.4. PERUBAHAN MAKNA
Dalam masa yang relatif singkat,makna sebuah kata akan tetap sama,tidak berubah tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah.Kemungkinan ini berlaku hanya terjadi pada sejumlah kata yang disebabkan oleh berbagai faktor,antara lain:
a. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi
b. Perkembangan sosial budaya
c. Perkembangan pemakaian kata
d. Pertukaran tanggapan indra
e. Adanya asosiasi

7.5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
Kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata –kata yang berbeda dalam satu
medan makna atau satu medan leksikal.
Medan Makna
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknannya saling berhubungan.
Misalnya:nama-nama warna,nama perabot rumah tangga
Komponen Makna
Makna setiap kata terdiri dari sebuah komponen.yang membentuk keseluruhan makna kata itu.
Contoh:kata ayah memiliki komponen kata manusia,dewasa,jantan,kawin dan punya anak
Kesesuaian Sematik dan Sintaktik
Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal tetapi juga masalah semantik.
Amati keempat kalimat berikut yang akan tampak perbedaan ketidakterimaannya.
Kambing yang punya Pak Udin terlepas lagi.
Segelas Kambing minum setumpuk air.
Kambing itu membaca komik.
Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta orang.
Kalimat (a) karena kesalahan gramatikal yaitu adanya konjungsi “yang”.
Kalimat (b) karena kesalahan persesuaian leksikan seharusnya bukan segelas
Kambing tetapi seekor kambing.
Kalimat (c) karena tidak adanya persesuaian semantik antara kata kambing dan
Membaca.
Kalimat (d) karena kesalahan informasi.Dewasa ini penduduk DKI Jakarta hanya 8
Juta,bukan 50 juta.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: