Cakrabuwana’s Weblog

Tri Hartanti – Bab 6 Tataran Linguistik (3) : Sintaksis

Posted on: Oktober 15, 2008

Nama : Tri Hartanti

NIM : 1402408060

Rombel : 1

6. TATARAN LINGUISTIK (3): SINTAKSIS

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksi terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk membangun struktur tersebut.

Fungsi sintaksis terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang diibaratkan seperti kotak-kotak kosong yang tidak punya arti.

Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan numeralia.

Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran, waktu, dan sebagainya.

Contoh :

Ibu menyapu halaman tadi pagi.

Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku.

Susunan fungsi sintaksis tidak harus S, P, O, K. Yang tampak urutannya harus tetap adalah predikat dan objek. Suatu struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi predikat.

Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata, bentuk kata,intonasi dan konektor.

Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam Bahasa Indonesia, perbedaan urutan kata dapat menimbulkan makna yang berbeda.

Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna. Misal: melirik menjadi dilirik.

Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif, interogatif atau yang lainnya.

Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya. Ada dua macam konektor yaitu :

  1. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.
  2. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai penuturan.

Ada dua macam kata, yaitu :

  1. kata penuh

Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina, verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.

  1. Kata tugas

Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh : dan, meskipun.

Dari kedua kata tersebut, hanya kata penuh yang dapat mengisi fungsi sintaksis.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.

Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.

Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Contoh :

Nenek membaca koran di teras depan.

Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1Frase eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di pasar. Secara utuh dapat mengisi fungsi keterangan, tapi komponen di atau pasar saja tidak dapat menduduki fungsi tersebut. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :

- frase eksosentrik direktif

Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.

Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi. Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.

- frase eksosentrik non direktif

Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.

6.3.2.2Frase endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca menjadi membaca.

Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti pekerjaan sedang berlangsung.

Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.

6.3.2.3 Frase koordinatif

Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baikā€¦maupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.

6.3.2.4 Frase apositif

Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :

Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi

Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.

6.3.3 Perluasan Frase

Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :

1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.

2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.

3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 Klausa

6.4.1 Pengertian

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap. Keterangan tidak wajib dalam klausa.

Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata akan menjadi kalimat minor.

6.4.2 Jenis klausa

1) berdasarkan strukturnya :

- klausa bebas

yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

- klausa terikat

struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama klausa atasan.

2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :

Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan proposisional.

Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan resiprokal.

6.5 Kalimat

.6.5.1 Pengertian

Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.

6.5.2 Jenis kalimat

6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti

K alimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.

Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti

6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat majemuk.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk dibedakan menjadi :

- kalimat majemuk koordinatif (setara)

Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, tetapi dan lalu. Bisa juga tanpa menggunakan konjungsi.

- kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)

Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan, sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Proses terbentuknya kalimat majemuk subkoordinatif ada dua sudut yang bertentangan :

- sebagai hasil penggabungan dua klausa atau lebih

- hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya

Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk campuran.

6.5.2.3Kalimat mayor dan minor

Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar. Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka termasuk kalimat minor.

6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal

Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.

Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.

6.5.2.5Kalimat bebas dan terikat

Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan yang berhubungan.

Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi menjadi ujaran lengkap.

Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain, tidak dapat memulai suat paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran lengkap.

6.5.3Intonasi kalimat

Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.

Macam intonasi :

- Tekanan : ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran

- Tempo : waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

- Nada : diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.

6.5.4Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Beberapa macam modus antara lain :

- modus indikatif / deklaratif : menunjukkan sikap objektif / netral.

- modus optatif : menunjukkan harapan / keinginan

- modus imperative : menunjukkan perintah / larangan

- modus anterogatif : menyatakan pertanyaan

-modus obligatif : menyatakan keharusan

- modus desideratif : menyatakan keinginan / kemauan

- modus kondisional : menyatakan persyaratan

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi. Macam aspek antara lain :

- aspek kontinuatif : menyatakan perbuatan terus berlangsung

- aspek repetitive : menyatakan perbuatan berulang-ulang

-aspek insentif : menyatakan perbuatan baru dimulai

- aspek progresif : menyatakan perbuatan sedang berlangsung

- aspek imperfektif : menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar

- aspek sesatif : menyatakan perbuatan sudah berakhir

6.5.4.3 Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan).

Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya, sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.

6.5.4.4Modalitas

Modalitas adlah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang lainnya. Jenis-jenis modalitas :

- intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)

- epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)

- deontik (keizinan, keperkenaan)

- dinamik (kemampuan)

6.5.4.5Fokus

Fokus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar / pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat dilakukan dengan berbagai cara :

- pemberian tekanan

- mengedepankan bagian yang ditonjolkan

- memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut

- mengontraskan dua bagian kalimat

- menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden

6.5.4.6Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis :

- aktif (subjek melakukan pekerjaan)

- pasif (subjek dikenai pekerjaan)

- refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)

- resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)

- kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)

6.6Wacana

6.6.1Pengertian

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kaliamat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.

Persyaratan gramatikal dipenuhi jika wacana sudah terbina kekohesian yang ditandai dengan keserasian hubungan antar kalimat.

6.6.2Alat wacana

Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan kohern. Ada 2 aspek, yaitu :

1) aspek gramatikal

- konjungsi (penghubung)

- kata gantio dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis

- menggunakan elipssis (penghilangan bagian kalimat yang sama)

2) aspek semantic

- hubungan pertentangan

- generic-spesifik dan sebaliknya

- hub. Perbandingan

- hub sebab-akibat

- hub tujuan

- rujukan yang sama

6.6.3Jenis wacana

1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis

2) Berdasarkan penggunaan bahsa : wacana prosa dan puisi

3) Berdasarkan isi : narasa, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

6.6.4Subsatuan wacana

Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,. paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.

6.7 Catatan mengenai Hierraki Satuan

Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: