Cakrabuwana’s Weblog

Arsip untuk Oktober 2008

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK 6: SINTAKSIS

Disusun oleh :

(1402408)

Morfosintaksis yaitu gabungan dari morfologi dan sintaksis.

Morfologi membicarakan tentang struktur internal kata.

Sintaksis membicarakan tentang hubungan kata dengan kata lain.

6.1.STRUKTUR SINTAKSIS

Struktur sintaksis ada tiga yaitu fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan peran sintaksis.

Dalam fungsi sintaksis ada hal-hal penting yaitu subjek, predikat, dan objek.

Dalam kategori sintaksis ada istilah nomina, verba, adjektiva, dan numeralia.

Dalam peran sintaksis ada istilah pelaku, penderita, dan penerima.

Menurut Verhaar (1978), fungsi-fungsi S, P, O, dan K merupakan kotak kosong yang diisi kategori dan peranan tertentu.

Contohnya: Kalimat aktif: Nenek melirik kakek tadi pagi.

S P O K

pelaku sasaran

Kalimat pasif: Kakek dilirik nenek tadi pagi.

S P O K

sasaran pelaku

Agar menjadi kalimat berterima, maka fungsi S dan P harus berurutan dan tidak disisipi kata di antara keduanya.

Struktur sintaksis minimal mempunyai fungsi subjek dan predikat seperti pada verba intransitif yang tidak membutuhkan objek.

Contohnya: Kakek makan.

Verba transitif selalu membutuhkan objek.

Contohnya: Nenek membersihkan kamarnya.

Menurut Djoko Kentjono(1982), hadir tidaknya fungsi sintaksis tergantung konteksnya.

Contohnya: Kalimat seruan: Hebat!

Kalimat jawaban: Sudah!

Kalimat perintah: Baca!

Fungsi-fungsi sintaksis harus diisi kategori-kategori yang sesuai.

Fungsi subjek diisi kategori nomina, fungsi predikat diisi kategori verba, fungsi objek diisi kategori nomina, dan fungsi keterangan diisi kategori adverbia.

Contohnya: Dia guru.(salah) Dia adalah guru.(benar)

S O S P O

Kata “adalah” pada kalimat tersebut merupakan verba kopula,seperti to be pada bahasa Inggris.

Berenang menyehatkan tubuh.

S P O

Kata “berenang” menjadi berkategori nomina karena yang dimaksud adalah pekerjaan berenangnya.

Peran dalam struktur sintaksis tergantung pada makna gramatikalnya. Kata yang bermakna pelaku dan penerima tetap tidak berubah walaupun kata kerja yang aktif diganti menjadi pasif.

Pelaku berarti objek yang melakukan pekerjaan.

Penerima berarti objek yang dikenai pekerjaan.

Makna pelaku dan sasaran merupakan makna gramatikal.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi.

Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna.

Contohnya: tiga jam – jam tiga.

Nenek melirik kakek. – Kakek melirik nenek.

Dalam kalimat aktif transitif mempunyai kendala gramatikal yaitu fungsi predikat dan objek tidak dapat diselipi kata keterangan.

Contohnya: Nenek melirik tadi pagi kakek.(salah)

Intonasi merupakan penekanan. Perbedaan intonasi juga menimbulkan perbedaan makna.

Intonasi ada tiga macam yaitu intonasi deklaratif untuk kalimat bermodus deklaratif atau berita dengan tanda titik, intonasi interogatif dengan tanda tanya, dan intonasi interjektif dengan tanda seru.

Intonasi juga dapat berupa nada naik atau tekanan.

Contohnya: Kucing / makan tikus mati.

Kucing makan tikus / mati.

Kalimat tersebut sudah berbeda makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda yang disebut ambigu atau taksa.

Konektor bertugas menghubungkan konstituen satu dengan yang lain.

dilihat dari sifatnya, ada dua macam konektor.

Konektor koordinatif menghubungkan dua konstituen sederajat. Konjungsinya seperti dan, atau, dan tetapi.

Contohnya: Nenek dan kakek pergi ke sawah.

Konektor subordinatif menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat. Konjungsinya seperti kalau, meskipun, dan karena.

Contohnya: Kalau diundang, saya tentu akan datang.

6.2.KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis.

Kata berperanan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan bagian-bagian dari suatu sintaksis.

Ada dua macam kata yaitu kata penuh(fullword) dan kata tugas(functionword).

Kata penuh adalah kata yang secara leksikal dapat bermorfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat menjadi sebuah tuturan.

Contohnya: Kucing. Bermorfologi menjadi berkucing-kucingan.

Nenek!. Kata yang berdiri sendiri menjadi kalimat jawaban.

Kata tugas adalah kata-kata yang secara leksikal tidak dapat berdiri sendiri menjadi sebuah tuturan.Contohnya yaitu preposisi dan konjungsi. Misalnya kata dan dan meskipun.

Kata tugas dapat berdiri sendiri apabila berkategori nomina atau menjadi topik pembicaraan.

Contohnya: Pak Ahmad menerangkan cara penulisan awalan di.

6.3.FRASE

6.3.1.Pengertian Frase

Frase didefinsikan sebagai satua gramatikal yang berupa gabungan kata yang nonpredikatf atau bukan predikat.

Contohnya: tanah tinggi. Frase tersebut berfungsi sebagai objek.

Frase mengisi satu fungsi sintaksis sebagai satu kesatuan bukan per kata.

Kata majemuk bukanlah frase karena merupakan morfem dasar terikat,tidak dapat dipisahkan per kata dan tidak dapat bermorfologi atau diselipi kata.

Contohnya: meja hijau, telur mata sapi.

6.3.2.Jenis Frase

1.Frase Eksosentrik

Frase Eksosentrik adalah frase yang komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis sama dengan frase itu sendiri.

Contohnya: Dia berdagang di pasar.

Dia berdagang di.(salah)

Dia berdagang pasar.(salah)

Frase eksosentrik direktif komponen utamanya berupa preposisi. Seperti di, ke, dan dari.

Frase eksosentrik nondirektif komponen utamanya berupa artikulus. Seperti si dan sang.

2.Frase Endosentrik

Frase Endosentrik adalah frase yang salah satu komponennya mempunyai perilaku sintaksis sama dengan frase itu sendiri.

Contohnya: Nenek sedang membaca koran.

Nenek membaca koran.(benar)

Frase endosentrik disebut huga frase modifikatif karena komponen bawahan membatasi makna komponen utama.

Contohnya: seekor kucing. Kata seekor membatasi makna kata kucing.

Frase endosentrik juga disebut frase subordinatif karena terdiri dari komponen atasan atau utama dan komponen bawahan.

Dilihat dari kategori intinya, frase dibedakan menjadi frase nominal, frase verbal, frase adjektival, dan frase numeral.

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya sederajat. Contohnya: sehat dan kuat.

Frase apositif adalah frase yang komponen pembentuknya saling merujuk. Contohnya: Pak Ahmad, guru saya. Guru saya Pak Ahmad.

6.3.3.Perluasan Frase

Maksudnya frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai pengertian yang akan ditampilkan.

Dari frase yang bersifat umum menjadi lebih khusus.

Contohnya: Di kamar. Menjadi: Di kamar tidur saya.

6.4.KLAUSA

6.4.1.Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis yang berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif atau berpredikat.

Klausa akan menjadi kalimat minor apabila diberi intonasi final seperti intonasi deklaratif, interogatif, dan interjektif.

Kehadiran objek timbul pada verba transitif.

Verba bitransitif menghadirkan dua objek yaitu objek langsung atau sasaran dan objek tak langsung yang memperoleh manfaat dari tindakannya.

Contohnya: Kakek membelikan nenek(langsung) sepatu baru(tak langsung).

Unsur pelengkap disebut juga komplemen yaitu bagian dari predikat verbal bukan transitif.

Unsur pelengkap tidak dapat menempati fungsi subjek walau klausanya dipasifkan.

Contohnya: Kakek ingin menjadi guru. Guru ingin dijadi kakek.(salah).

Keterangan adalah bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan.

Klausa menjadi pengisi kalimat dalam sintaksis baik yang koordinatif(kalimat majemuk setara) maupun subordinatif(kalimat majemuk bertingkat).

6.4.2.Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat.

Klausa bebas adalah klausa yang berstruktur lengkap, sekurang-kurangnya subjek dan predikat, berpotensi menjadi kalimat utuh. Contohnya: Nenekku masih cantik.

Klausa terikat adalah klausa yang tidak berstruktur lengkap. Contohnya: Tadi pagi!(dalam kalimat jawaban).

Klausa terikat disebut juga klausa subordinatif atau klausa bawahan. Contohnya: Ketika kami sedang belajar. Klausa tersebut harus mempunyai klausa atasan. Kalimat tersebut ditandai dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya.

Berdasarkan unsur segmental predikatnya, klausa dibedakan atas:

1.Klausa verbal.Yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba. Contohnya: Nenek mandi.

2.Klausa nominal. Yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina. Contohnya: Nenek petani.

Apabila trdapat verba kopula, maka klausa nomina menjadi klausa verba. Contohnya: Nenek adalah petani.

3.Klausa adjektival adalah klausa yang predikatnya berkategori kata sifat atau adjektif. Contohnya: Ibu dosen cantik.

4.Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berkategori adverbia. Contohnya: Bandelnya teramat sangat.

5.Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berpreposisi. Contohnya: Ibu di kamar.

6.Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berkategori kata atau frase numeral. Contohnya: Gajinya lima juta sebulan.

6.5.KALIMAT

6.5.1.Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi, serta disertai intonasi final.

Yang mendasar pada kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final.

Konstituen dasar berua klausa dapat menjadi kalimat mayor atau bebas, dan yang berupa kata hanya menjadi kalamat terikat.

Intonasi final pada kalimat ada tiga yaitu intonasi deklaratif pada kalimat berita, intonasi interogatif pada kalimat tanya, dan intonasi seru pada kalimat seruan dan perintah.

6.5.2.Jenis Kalimat

6.5.2.1.Kalimat Inti dan Non Inti

Kalimat inti, biasa juga disebut kalimat dasar dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, netral, dan afirmatif.

Kalimat inti berstrruktur sebagai berikut: FN+FV, FN+FV+FN, FN+FV+FN+FN, FN+FN, FN+FA, FN+FNum, FN+FP.

FN=frase nominal,FV=frase verbal,FA=frase adjektival,FNum=frase numeral,FP=frase preposisi

Kalimat inti berubah menjadi kaliomat noninti apabila bertransformasi.

6.5.2.2.Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal terdiri dari satu klausa sedangkan kalimat majemuk terdiri dari lebih dari satu klausa.

Kalimat majemuk dibedakan menjadi tiga yaitu kalimat majemuk koordinatif atau kalimat majemuk setara, kalimat majemuk subordinatif atau kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk kompleks.

Kalimat majemuk koordinatif dihubungkan dengan konjungsi dan,atau, tetapi, dan lalu.

Kalimat majemuk subordinatif dihubungkan dengan konjungsi kalau, ketika, dan karena.

Dalam kalimat majemuk subordinatif, klausanya dibedakan menjadi klausa atasan dan bawahan.

Kalimat majemuk kompleks terdiri dari tiga klausa atau lebih, dihubungkan secara koordinatif atau subordinatif. Karena itu sering juga disebut kalimat majemuk campuran.

S

P

O

K(sebab)

Klausa I

Klausa II

Klausa III

Contohnya: Kakek mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil selembar uang ribuan untuk membayar ongkos becak.

6.5.2.3.Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor mempunyai klausa lengkap, setidak-tidaknya mempunyai subjek dan predikat.

Kalimat minor, walaupun klausanya tidak lengkap tetapi dapat dipahami karena konteksnya diketahui pembaca.

Contohnya: Sedang makan!(kalimat jawaban)

6.5.2.4.Kalimat Verbal dan Kalimat Non Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal.

Kalimat verbal ada dua macam yaitu transitif dan intransitif.

Kalimat non verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, adjektival, juga numeralia. Contohnya: Mereka rajin sekali.

Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Contohnya: Dia pergi begitu saja.

Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau gerakan. Contohnya: Anaknya sakit keras.

6.5.2.4.Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang berpotensi menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai suatu paragraf. Biasa disebut juga kalimat utama.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap dan diperlukan adanya kalimat bebas agar dapat berdiri menjadi ujaran.

6.5.3.Intonasi

Dalam bahasa Indonesia, intonasi hanya berlaku pada tataran sintaksis. Dalam klausa yang sama, berunsur segmental sama, dapat berbeda maknanya jika intonasinya berbeda. Klausa tersebut dapat menjadi kalimat deklaratif atau interogatif tergantung dari intonasi yang ditambahkan.

Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.

Tempo adalah maktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran.

Nada adalah unsure suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.

Contohnya:

Rumah sekarang mahal.

2 33n / 2 33n / 2 31t

Apa rumah sekarang mahal ?

2 - 33n / 2 - 33n / 2 31t #

Bacalah buku itu !

2 - 32t / 2 11t #

Keterangan : n = naik

t = turun

tanda = tekanan

6.5.4.Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1.Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Ada beberapa modus, antara lain:

Modus indikatif atau modus deklaratif yaitu modus yang menunjukkan sikap objektif atau netral.

Modus optatif yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan.

Modus imperatif yaitu modus yang menyatakan perintah atau larangan.

Modus interogatif yaitu modus yang menyatakan pertanyaan.

Modus obligatif yaitu modus yang menyatakan keharusan.

Modus desideratif yaitu modus yang menyatakan kemauan.

Modus kondisional yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

6.5.4.2.Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, dan proses.

Ada berbagai macam aspek, yaitu:

Aspek kontinuatif. Menyatakan perbuatan yang terus berlangsung.

Aspek inseptif. Menyatakan peristiwa yang baru dimulai.

Aspek progresif. Menyatakan peristiwa yang sedang berlangsung.

Aspek repetitif. Menyatakan peristiwa yang berulang-ulang.

Aspek perfektif. Menyatakan peristiwa sudah selesai.

Aspek imperfektif. Menyatakan peristiwa yang berlangsung sebentar.

Aspek sesatif. Menyatakan peristiwa berakhir.

6.5.4.3.Kala

Kala atau tenses adalah infomasi kalimat yang menyatakan waktu terjadinya kejadian.

Kala menyatakan waktu sekarang, lampau dan yang akan datang.

Bahasa Indonesia menyatakan kala secara leksikal antara lain sudah, sedang, dan akan.

Konsep kala sudah berbeda dengan konsep keterangan waktu.

Contohnya: Pak lurah itu sudah mati.

6.5.4.4.Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan keadaan, peristiwa, atau juga sikap terhadap lawan bicara.

Modalitas intensional yaitu modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan, atau ajakan.

Contohnya: Nenek ingin menunaikan ibadah haji.

Modalitas epistemik yaitu modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan.

Contohnya: Kalau tidak hujan kakek pasti datang.

Modalitas ideontik yaitu modalitas yang menyatakan keizinan.

Contohnya: Anda boleh tinggal di sini.

Modalitas dinamik yaitu modalitas yang menyatakan kemampuan.

Contohnya: Dia bisa melakukan hal itu kalau diberi kesempatan.

6.5.4.5.Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat itu sehingga perhatian pembaca tertuju pada bagian itu.

Ada berbagai cara membuat fous pada kalimat.

Pertama. Memberi tekanan pada hal yang difokuskan.

Contohnya: Dia menangkap ayam saya. Kalau tekanan diberikan pada kata “dia”, maka perhatian akan tertuju pada dia bukan pada orang lain.

Kedua. Dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.

Contohnya: Hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah.

Oleh pemerintah, hal itu telah disampaikan kepada DPR.

Ketiga. Dengan partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

Contohnya: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Keempat. Dengan mengontraskan dua bagian kalimat.

Contohnya: Ini jendela, bukan pintu.

Kelima. Dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden.

Contohnya: Bu dosen linguistik itu pacarnya seorang konglomerat.

6.5.4.6.Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

Ada beberapa macam diatesis, antara lain:

Diatesis aktif, yakni subjek melakukan perbuatan.

Contohnya: Mereka merampas uang kami.

Diatesis pasif, yakni subjek yang menjadi sasaran kegiatan.

Contohnya: Uang kami dirampasnya.

Diatesis reflektif, yakni subjek melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

Contohnya: Nenek sedang berhias.

Diatesis resiprokal, yakni subjek terdiri dari dua pihak yang melakukan perbuatan saling berbalasan.

Contohnya: Mereka akan berdamai juga.

Diatesis kausatif, yakni subjek menjadi penyebab terjadinya sesuatu.

Contohnya: Kakek menghitamkan rambutnya.

6.6.WACANA

6.6.1.Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan tertinggi.

Dalam wacana terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembicara.

Persyaratan gramatikal akan terpenuhi jika ada unsur-unsur yang berubungan serasi atau kohesif dan tercipta koherensi.

Contohnya: Dika dan Nita pergi ke toko buku. Dia membeli kamus Bahasa Indonesia.

Kata ganti dia tidak kohesif karena yang dimaksud si dia belum diketahui, apakah Dika atau Nita.

Koheren berarti isi kalimat satu dengan kalimat lain menjurus kepada hal yang sama yang menjadi inti pada sebuah wacana.

Wacana yang baik mempunyai satu keutuhan isi.

6.6.2.Alat Wacana

Alat wacana ada beberapa, yaitu sebagai berikut:

Pertama, konjungsi, yakni alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat.

Kedua, kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.

Ketiga, elipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama dengan kalimat yang akan digabungkan dengan kalimat itu.

Aspek semantik yang membuat wacana menjadi kohesif dan koheren antara lain:

Pertama, dengan hubungan pertentangan antar klausa.

Kedua, dengan hubungan generik-spesifik atau spesifk-generik antar klausa.

Ketiga, dengan hubungan perbandingan antar klausa.

Keempat, dengan hubungan sebab akibat antar klausa.

Kelima, dengan hubungan tujuan di dalam isi wacana.

Keenam, dengan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau dua kalimat dalam wacana.

Contohnya: Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering dituduh memacetkan lalu lintas.

6.6.3.Jenis Wacana

Dilihat dari sarananya wacana dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana tulis.

Dilihat dari penyampaian isi, wacana dibedakan menjadi sebagai berikut:

Narasi. Narasi bersifat menceritakan suatu topic.

Eksposisi. Eksposisi bersifat memaparkan.

Persuasi. Persuasi bersifat mengajak atau melarang.

Argumentasi. Argumentasi bersifat memberi argument.

6.6.4.Subsatuan Wacana

Dalam wacana berupa karangan ilmiah, dapat dikatakan wacana dibangun oleh subsatuan yang disebut bab, subbab, paragraf, atau juga subparagraf.

Satuan ide atau pesan akan dapat dipahami pembaca tanpa mersa ada kekurangan informasi tergantung pada seberapa besar atau luasnya pesan atau ide yang disampaikan.

6.7. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Urutan hierarki satuan akan dapat dibuat urutanya dari subbab 6.6. seperti pada bagan berikut:

wacana

kalimat

klausa

frase

kata

morfem

fonem

Urutan hierarki merupakan urutan normal teoretis.

Ada beberapa kasus dalam penyimpangan urutan yaitu: pelompatan tingkat, pelapisan tingkat, dan penurunan tingkat.

Pelompatan tingkat terjadi pada sebuah satuan konstituen menjadi konstituen di atasnya sekurang-kurangnya dua tingkat di atasnya.

Contohnya: kata “nenek” menjadi sebuah kalimat seruan “Nenek!”

Kasus pelapisan tingkat terjadi apabila konstituen menjadi unsur konstituen pada konstruksi setingkatnya.

Contohnya: Kata dengar menjadi mendengarkan. Frase “mahasiswa tahun pertama” menjadi “seorang mahasiswa tahun pertama”.

Kasus penurunan tingkat terjadi apabila sebuah konstituen menjadi unsur konstituen bertingkatan lebih rendah.

Contohnya: Frase tidak adil menjadi ketidakadilan.

Nama : Hermawan Setyo Aji

NIM : 1402408164

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama disebut tahap spekulasi, merupakan pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada bukti empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Sebagai contoh pernyataan Andreas Kemke yang mengatakan bahwa Nadi Adam di surga berbicara dengan bahasa denmark.

Tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi, dimana pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. Karena itu, perkerjaan mereka belum dapat dikatakan bersifat ilmiah. Contohnya pendapat suku Dayak Iban yang mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada satu bahasa, tetapi karena pengaruh mabuk cendawan, mereka berbicara dalam bebagai bahasa.

Penyelidikan bersifat ilmiah dilakukan pada tahap ketiga, dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan di klasifikasi, tetapi juga dibuatkan teori-teorinya.

8.1 Linguistik Tradisional

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural.

Adapun perbedaan dari tata bahasa tradisional dengan tata bahasa struktural, yaitu. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan sematik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau cirri-ciri formal dalam suatu bahasa tertentu.

Dalam merumuskan kata kerja tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang berdistributii dengan fase “dengan…”.

Terbentuknya tata bahasa tradisional sangat panjang mulai dari zaman Yunani hingga abad ke-19.

8.1.1 Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa pada zaman Yunani lebih kurang abad ke-5 S.M sampai kurang abad ke-2 M. jadi, kurang lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah :

a. Pertentantangan antara fisis (bersifat alamiah) dan nomos (bersifat konvensi).

b. Pertentangan antara anomali dan analogi.

Bersifat alamai fisis maksudnya bahasa mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri. Para pendukungnya disebut kaum naturalis. Sedangkan bahasa bersifat konvensi, artinya makna kata itu diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasan, yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. Adalah kaum konvensional yang berpendapat demikian.

Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, seperti Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa dengan teratur.

Dari keterangan diatas tampak bahwa kaum anomali sejalan dengan kaun naturalis, dan kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional. Pertentangan kedua kelompok itu masih berlangsung sampai sekarang,

Berikut ini beberapa nama kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani.

8.1.1.1 Kaum Sophis

Kaum sophis munculpada abad ke-5 S.M. Mereka dikenal dalam studi bahasa,antara lain,

Ø Mereka melakukan kerja secara empiris,

Ø Secara pasti menggunakan ukuran-ukuran tertentu,

Ø Sangat mementingkan bidang retorika,

Ø Membedakan tipe-tpie kalimat berdasarkan isi dan makna.

Ada dua tokoh Sophis yaitu Protogoras yang menbagi kalimat menjadi :


· Kalimat narasi,

· Kalimat jawab,

· Kalimat laopran,

· Doa,


· Undangan.

dan Georgias, yang membicarakan tentang gaya bahasa.

8.1.1.2 Plato (429 – 329 S.M)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

1. Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya “Dialog”. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensianal,

2. Menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.

3. Membedakan kata dalam onomata dan rhemata.

8.1.1.3 Aristoteles (384 – 322 S.M)

Aristoteles membagi 3 macam kelas kata yaitu :

· Onoma : dapat berarti (1) nama, (2) nomina, (3) subjek

· Rhema : dapat berarti (1) ucapan, (2) verba, (3) predikat

· Syndesmoi : kurang lebih sama dengan kelas preposisi dan konjugasi

Kemudian membedakan gender kata menjadi 3, yaitu maskulin, feminim dan neutrum.

8.1.1.4 Kaum Stoik

Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 S.M. Mereka terkenal karena :

v Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa,

v Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa,

v Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, membedakan kegein dan propheretal, membagi kata menjadi 4 yaitu kata benda,

v Kata kerja, syndesmoi dan athoron, terakhir membedakan adanya kata kerja komplet dan tak komplet, serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5 Kaum Alexandrian

Cikal bakal bahasa tradisional berasal dari buku Dionysius Thrax yang dianut oleh kaum Alexandria.. Buku ini lahir lebih kurang tahun 100 S.M. Buku ini diterjemahkan ke bahasa latin dengan judul Ars grammatical oleh Remmius Palaemon. Karena sifatnya yang mentradisi, sampai sekarang dikenal sebagai tata bahasa tradisional.

8.1.2 Linguistik Zaman Romawi

Zaman Romawi disebut lanjutan zaman Yunani. Dapat dikatakan orang Romawi mendapat pengalaman linguistik dari Yunani. Remmius Palaemon menerjemahkan tata bahasa Dionysius Thrax kedalam bahasa latin dengan judul Ars Grammatica pada awal abad pertama.

8.1.2.1 Varro dan “De Lingua Latina

Varro membagi buku De Lingua Latina kedalam 3 bidang, entimologi, morfologi dan sintaksis, penjelasannya yaitu :

  1. Entimologi, yaitu cabang linguistik yang menyeldiki asal usul kata beserta artinya.
  2. Morfologi, yaitu cabang linguistik yang mempelajari kata dan pengucapannya. Jadi ada bentuk regular dan yang tak regular,Varro membagi kelas latin dalam empat bagian yaitu :

    1. Kata benda, termasuk kata sifat,yakni kata berinfleksi kasus,
    2. Kata kerja, yakni kata yang memuat pertanyaan yang berinfleksi “tense”,
    3. Partisipel, kata yang meghubungkan, yang berinfleksi kasus dan “tense”,
    4. Adverbiun, yakni kata yang mendukung, tak berinfleksi.

8.1.2.2 Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Buku Institutiones Grammaticae dijadikan dasar tata bahasa Latin dan filsafat pertengahan. Buku ini diangap penting karena :

1. Merupakan buku Latin yang paling lengkap yang dituturkan penbicara aslinya,

2. Teori bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan megenai buku ini adalah :

a. Fonologi, yang dibicarakan adalah tulisan atau huruf (litterace). Yang dimaksud adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan.

b. Morfologi, yang dibicarakan mengenai dictio atau kata. Yang dimaksud adalah bagian minmum dari sebuah ujaran dan haru s diartikan terpisah.

c. Sintaksis, yang dibicarakan tata susunan kata yang selaras dan menunjukkan kalimat selesai(Oratio).

8.1.3 Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa dipakai sebagai bahasa gereja, bahasa diplomasi dan bahasa ilmu pengetahuan disebut Lingua Franca. Adalah Kaum Modisate, Tata Bahasa Spekulativa, dan Pertus hispanus yang patut di bicarakan dalam studi bahasa dari zaman pertengahan.

Kaum Modisate mereka masih membicarakan pertentangan antar fisis dengan nomos, analogi dengan anomaly.

Tata Bahasa Spekulativa ialah hasil inyegrasi deskripsi grammatical bahasa latin kedalam filsafat skolastik.

Petrus Hispanus. Perannya dalam bidang linguistik adalah :

a) Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa,

b) Membedakan signifikasi utama dan konsignifikasi,

c) Membedakan nomen menjadi 2, yaitu substantivum dan adjectivum,

d) Membedakan patres oratigones atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4 Zaman Reanisans

Zaman Reanisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad moderen karena menguasai bahasa latin serta sarjana-sarjananya menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

Bahasa Ibrani dan bahasa Arab dipelajari orang pada akhir abad pertengahan, keduanya diakui resmi oleh universitas di Paris pada abad 14 M. Bahasa Ibrani perlu dipelajari karena kedudukannya pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Sedang linguistik Arab berkembang karena sebagai bahasa kitab sucu Al Qur’an agama Islam. Pandapat banyak ulama Al Qur’an tidak boleh di terjemahkan tetapi boleh ditafsirkan. Ada 2 aliran yaitu Basra dan Kufah, yang namanya dimbil dari nama daerah kedudukan para linguis.

Bahasa-bahasa Eropa, sebenarnya sudah menarik perhatian sejak zaman Reanisan,disamping bahasa Yunani dan Latin, ada buku dengan bahasa Irlandia, Islandia dan Provecal. Yang menjadi perhatian justru bahasa Roman atau Neo-Latin.

Bahasa-bahasa di luar Eropa, mendapat perhatian dari para misionaris yang dikirim ke luar negrei, karena itulah muncul tulisan tentang bahasa India, Jepang, dan Indonesia.

8.1.5 Menjelang Lahirnya Linguistik Moderen

Masa antara lahirnya linguistik moderen dengan masa berakhirnya zaman reanisans ada satu tonggak yang dianggap pentingyaitu dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa- bahasa Jerman lainnya.

Dapat disimpulkan pembicaran linguistik tradisional adalah :

a) Tata bahasa tardisional tidak dikenal perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan,

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokandari bahasa lain, terutama Latin,

c) Kaidah bahasanya dibuat prespektif,

d) Persoalan bahasa sering dolibatkan dengan logika,

e) Penemuan atau kaidah terdahulu cenderung dipertahankan.

8.2 Linguistik Strukturalis

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Tidak seperti linguistik tradisional yang menerapkan pola tata bahasa Yunani dan Latin.

Pembicaraan Linguistik Strukturalis dapat dimulai dari Ferdinand de Saussura yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Struktur.

8.2.1 Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1851-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Moderen berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Berikut pandangannya secara singkat.

Telaah Sinkronik dan Diakronik, adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu.

La Language dan La Parole, yang dimaksud la language yaitu keseluruhan system tanda yang berfugsi sebagai alat komunikasi. Sedang la parole adalah pemakaian atau relisasi language oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya kongkret karena parole itu tidak lain daripada realita fisis dari orang yang satu dengan yang lain.

Significant dan signifĕ, significant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedang signifiĕ adalah pengertian atau kesan yang ada dalam pikiran kita.

Hubungan Sintamatik dan Paradigmatik, yang dimaksud hubungan sintamatik yaitu hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bresifat linear. Hubungan paradigmatic adalah hubugan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturanyang bersangkutan.

8.2.2 Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926batas prakarsa Vilem Matheus (1882-1945). Dalam bidang fonologi, aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dengan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi itu sendiri, sedang fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut sebagai system.

Srtuktur bunyidijelaskan dengan memakai kontras dan oposisi. Ukuran untuk menentukan apakah bunyi ujaran itu beroposisi atau tidak bermakna adalah distingtif. Artinya, bunyi itu tidak fonemis.

Dalam aliran Praha, bidang fonologi dikenalkan dan dikembangkan istilah yang disebut morfonologi. Dalam bidang sintaksis, Vilem Matheus mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya, dan struktur formalnya, dan dari struktur informasinya yang terdapat dalam kaliamt yang bersangkutan.

8.2.3 Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev yang terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dariilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan termilogis sendiri.

Menurutnya teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, harus merupakan suatu system deduktif semata. Bahasa mengandung dua segi yaitu segi ekspresi dan segi isi. Masing-masing segi mengandung forma dan substansi.

8.2.4 Aliran Firthian

John R. Frith (1890-1960) guru besar Universitas London terkenal dengan teorinya mengenai fonologi prosodi atau aliran Frith, atau Aliran Frithian, atau Aliran London.

Fonologi prosodi terdiri dari satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan fonematis berupa unsur segmental, yaitu konsonan dan vocal, sedang satuan prosodi berupa cirri dan sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.

8.2.5 Linguistik Sistemik

Tokoh dari aliran Linguistik Sistematik Yaitu M.A.K Halliday, seorang murid Frith yang mengembangkan teori Frith mengenai bahasa, khususnya berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Pokok pandangan linguistik sistematik adalah :

Pertama memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa,

Kedua memandang bahasa sebagai “pelaksana”, karena mengakui langue dan parole,

Keiga mengutamakan pemerian cirri bahasa tertentubeserta variasinya,kuramg tertarik pada kesemestaan bahasa,

Keempat mengenal adanya gradasi dan kontinum.

Kelima mengambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi, forma, situasi.

8.2.6 Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Leonard Bloomfield (1877-1949) terkenal dengan bukunya yang berjudul Language dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika. Aliran ini berkembang pesat di Amerika pada tahun tigapuluhan sampai akhir tahun lima puluhan. Yang menyebabkan aliran ini berkembang antara lain :

1. Pada masa itu para linguis Amerika menghadapi banyaknya bahasa India di amerika yang belum dperikan, mereka ingin memerikan dengan cara sinkronik,

2. Bloomfield menolak metalistik yang sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada saat itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme,

3. Antara linguis ada hubungan baik,karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language,

Satu hal yang menarik dan merupakan cirri aliran ini yaitu sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memerikan suatu bahasa.

Aliran yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldiman, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield.

8.2.7 Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis.

Yang dimaksud dengan Tagmem adalah kolerasi dengan sekelompok bentuk kata yang dapat saling ipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya dua unsur tagmem yaitu fungsi dan bentuk ditambah dengan peran dan kohesi yang membentuk jalinan erat.

8.3 Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya

Orang merasa model struktural mempunyai banyak kelemahan, sehingga mencoba merevisi model struktural yang agak beda meski masih banyak persamaannya dengan model struktural semula. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional. Namun setelah dirasa linguistik transformasional banyak kekurangannya maka orang banyak yang membuat model lain.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Dalam bahasa Indonesia, tata bahasa transformasi disebut juga dengan tata bahasa generatif. Lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Stucture pada tahun 1957. kemudian dikembangkan dari kritik menjadi buku keduanya yaitu Aspect of Theory of Syntac.

Model tata bahasa yang dikembangkan adalah Transformational Generative Grammar. Menurutnya tata bahasa harus memenuhi dua syarat yaitu :

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut,sebagai kalimat wajar,

2. Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan yang digunakan tidak berdasar pada gejala bahasa saja, da semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

3. Jadi tata bahasa harus mampu mengambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya.

8.3.2 Semantik Generatif

Kelompok Lakoff terkenal dengansebutan Kaum Semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasan terhadap teori guru mereka Chomsky. Menurut sematik sudah seharusnya sematik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teoripertama kali diperkenlkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968.

Persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba. Yang dimaksud dengan kasus adalah hubungan antara verba dengan nomina.

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap asumsi teori sintaksis yang dicangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini, David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Seperti tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional mencari kaidah kesemestaan bahasa.

8.4 Tentang Linguistik di Indonesia

Studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistikdi Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1 Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh beberapa suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Sesuai dengan masanya, penelitian tentang linguistik juga berkembang.

8.4.2 Bahasa adalah bunyi dan bukan tulisanhingga kini masih cukup rawan, terbukti dengan masih banyaknya orang yang belum dapat membedakan konsep fonem dan huruf. Perkenalan dengan konsep linguistik moderen banyak menimbulkan pertentangan. Perkembangan waktu menyebabkan konsep linguistik moderen dapat diterima.

8.4.3 Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) dibentuk pada tanggal 15 November 1975 atas prakarsa sejumlah linguis senior dengan anggota para linguis yang bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. Jauh sebelum majalah Linguistik Indonesia sebenarnya sudah ada majalah liguistik yang mengunakan bahasa Inggris.

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang diluar Indonesia. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara. Selain itu kajian linguistik Indonesia dapat ditemui di London, Amerika, Jerman Italia.

8.4.5 Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa Negara, maka bahasa Indonesia menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia tercatat nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, Soedarjanto yang banyak menghasilkan tulisan mengenai segi dan aspek bahasa Indonesia.

Nama : Riana Dwi Saputri

NIM : 1402408153

Rombel :1

8. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Tahap-Tahap Studi Linguistik

Ÿ Tahap pertama, tahap spekulasi

Pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi.

Ÿ Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi

Diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori.

Ÿ Tahap ketiga, tahap perumusan teori

Membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Linguistik tradisional dan linguistik struktural banyak dibicarakan orang sebagai dua hal yang bertentangan sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan . . . .”.

8.1.1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Sejarah studi bahasa pada zaman Yunani sangat panjang, yaitu dari lebih kurang abad ke-5 S.M sampai lebih kurang abad ke 2 M.

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada linguis pada waktu itu adalah :

a. Pertentangan antara bahasa bersifat alami (fisis) dan bersifat konvensi (nomos)

Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. kaum naturalis adalah kelompok yang menganut faham itu, berpendapat bahwa setiap kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjuknya. Atau dengan kata lain, setiap kata mempunyai makna secara alami, secara fisis.

Sebaliknya kelompok lain yaitu kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi, artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

b. Pertentangan antara analogi dan anomali

Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Jika tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja dari bahasa itu. Keteraturan itu tampak, misalnya dalam pembentukan jamak bahasa Inggris : boy ð boys, girl ð girls dan book ð books.

Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kalau bahasa itu tidak teratur mengapa bentuk jamak bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs; mengapa bentuk past tense bahasa Inggris dari write menjadi wrote dan bukannya writed

8.1.1.1. KAUM SOPHIS

Kaum atau kelompok Sophis ini muncul pada abad ke-5 S.M. Mereka dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena :

a. Mereka melakukan kerja secara empiris;

b) mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunan ukuran-ukuran tertentu;

c) mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa;

d) mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

Salah seorang tokoh Shopis, yaitu Protogoras, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat laporan, doa, dan undangan.

8.1.1.2. PLATO (429 – 347 S.M)

Plato yang hidup sebelum abad Masehi itu, dalam studi bahasa terkenal antara lain, karena :

a) Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialog. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira : bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.

c) Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhema.

Onoma dapat berarti : (1) nama, dalam bahasa sehari-hari, (2) nomina, nominal, dalam istilah tata bahasa, dan (3) subjek, dalam hubungan subjek logis.

Rhema (bentuk tunggalnya rhemata), dapat berarti (1) ucapan, dalam bahasa sehari-hari, (2) verba, dalam istilah tata bahasa, dan (3) predikat, dalam hubungan predikat logis. Keduanya, onoma dan rhema, merupakan anggota dari logos, yaitu kalimat dan klausa.

8.1.1.3. ARISTOTELES (384 – 322 S.M)

Aristoteles adalah salah seorang murid Plato. Dalam studi bahasa dia terkenal antara lain, karena :

a) Dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuat gurunya, Plato yaitu dengan syndesmoi. Jadi menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu onoma, rhema, dan syndesma. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Jadi syndesmoi itu lebih kurang sama dengan kelas preposisi dan konjungsi.

b) Dia membedakan jenis kelamin kata (atau gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

Aristoteles selalu bertolak dari logika. Dia memberikan pengertian, definisi, konsep, makna, dan sebagainya selalu berdasarkan logika.

8.1.1.4. KAUM STOIK

Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 S.M. Mereka terkenal antara lain, karena :

a) Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa;

b) Mereka menciptakan istilah khusus untuk studi bahasa;

c) Mereka membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu (1) tanda, simbol, sign, atau semainon; (2) makna, apa yang disebut semanomen, atau lekton; (3) hal-hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi;

d) Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian dari fonologi tetapi tidak bermakna, dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna;

e) Mereka membagi jenis kata menjadi empat, yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah;

f) Mereka membedakan adanya kata kerja komplet dan kata kerja tak komplet, serta kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

8.1.1.5. KAUM ALEXANDRIAN

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Oleh karena itulah dari mereka, kita mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran bahasa Yunani. Buku ini lahir lebih kurang tahun 100 S.M. Buku inilah yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya.

Sezaman dengan sarjana-sarjana Yunani di atas, di India pada tahun 400 S.M. Panini seorang sarjana hindu, telah menyusun lebih kurang 4.000 pemeriah tentang struktur bahasa Sanskerta dengan prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang masih dipakai dalam linguistik modern. Leonard Bloomfield (1887 – 1949), seorang tokoh linguis struktural Amereka menyebut Panini sebagai One of greatest monuments of the human intelligence, karena buku tata bahasa Panini, yaitu Astdhyosi merupakan deskripsi lengkap dari bahasa Sanskerta yang pertama kali ada.

8.1.2. ZAMAN ROMAWI

Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani, sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi. Tokoh pada zaman romawi yang terkenal antara lain, Varro (116 – 27 S.M) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1. VARRO DAN “DE LINGUA LATINA”

Dalam Buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid ini, dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

a) Etimologi adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya. Dalam bidang ini Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman ke zaman, dan perubahan makna kata. Kelemahan Varro dalam bidang etimologi ini adalah dia menganggap kata-kata Latin dan Yunani berbentuk sama adalah pinjaman langsung.

b) Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya. Dalam menyusun kelas kata, Barro membagi kelas kata Latin dalam empat bagian, yaitu :

- Kata benda, termasuk kata sifat, yakni kata yang disebut berinfleksi kasus.

- Kata kerja, yakni kata yang membuat pernyataan, yang berinfleksi “tense”.

- Partisipel, yakni kata yang menghubungkan (dalam sintaksis kata benda dan kata kerja) yang berinfleksi kasus dan “tense”

- Adverbium, yakni kata yang mendukung (anggota bawahan dari kata kerja) yang tidak berinfleksi.

Kategori kata kerja dibedakan atas tense, time, dan aspect serta aktif dan pasif.

Menurut Varro, dalam bahasa Latin ada enam buah kasus, yaitu : (1) nominativus, yaitu bentuk primer atau pokok; (2) genetivus, yaitu bentuk yang menyatakan kepunyaan; (3) dativus, yaitu bentuk yang menyatakan menerima; (4) akusativus, yaitu bentuk yang menyatakan objek; (5) vokativus, yaitu bentuk sebagai sapaan atau panggilan; dan (6) ablativus, yaitu bentuk yang menyatakan asal.

Varro membedakan adanya dua macam deklinasi (perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah, dan jenis), yaitu :

1) Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifat alamiah, sebab perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.

2) Deklinasi voluntaris adalah perubahan yang terjadi secara morfologis bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2. INSTITUTIONES GRAMMATICAE ATAU TATA BAHASA PRISCIA

Buku tata bahasa Priscia ini yang terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting, karena :

a) Merupakan buku tata bahasa Latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembaca aslinya;

b) Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi formal bahasa yang patut dibicarakan mengenai buku ini, antara lain adalah :

1) Fonologi

Dalam bidang ini pertama-tama dibicarakan tulisan atau huruf yang disebut litterae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Nama huruf-huruf itu disebut figurae. Sedangkan nilai bunyi itu disebut protestas.

Bunyi itu dibedakan atas empat macam :

Ÿ vox artikulata, bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna

Ÿ vox martikulata, bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna.

Ÿ vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata.

Ÿ vox ulitterata, bunyi yang tidak dapat dituliskan.

2) Morfologi

Yang dibicarakan dalam bidang ini antara lain mengenai dictio atau kata, yaitu bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan.

Kata dibedakan atas delapan jenis yang disebut partes orationis, yaitu :

a) Nomen, termasuk kata benda dan kata sifat menurut klasifikasi sekarang.

b) Verbum, kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan.

c) Participium, kata yang selalu berderivasi dari verbum, mengambil kategori verbum dan nomen.

d) Pronomen, kata-kata yang dapat menggantikan nomen.

e) Adverbium, kata-kata secara sintaksis dan semantik merupakan atribut verbum.

f) Proepositio, kata-kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus.

g) Interjectio, kata-kata yang menyatakan perasaan, sikap, atau pikiran.

h) Conjunctio, kata-kata yang bertugas menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan sesamanya.

3) Sintaksis

Bidang ini membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai. Akhirnya dapat dikatakan bahwa buku Instituiones Grammaticae ini telah menjadi dasar tata bahasa Latin dan filsafat zaman pertengahan.

8.1.3. ZAMAN PERTENGAHAN

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik, dan bahasa Latin menjadi Lingua Franta, karena dipakai sebagai bahasa gereja, bahasa diplomasi, dan bahasa ilmu pengetahuan. Dan zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan :

Ÿ Kaum Modistae

Kaum Modistae ini masih pula membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali. Mereka menerima konsep analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan bersifat universal.

Ÿ Tata bahasa spekulativa

Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.

Ÿ Petrus Hispanus

Beliau pernah menjadi paus, yaitu tahun 1276 – 1277 dengan gelar Paus Johannes XXI. Bukunya berjudul Summulae Logicales. Perannya dalam bidang linguistik, antara lain :

a) Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.

b) Dia telah membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantivum dan nomen adjectivum.

c) Dia juga telah membedakan partes orationes atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4. ZAMAN RENAISANS

Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat, yaitu :

1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab.

2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

8.1.5. MENJELANG LAHIRNYA LINGUISTIK MODERN

Dalam masa ini ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa, yaitu dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa-bahasa Jerman lainnya. Dalam pembicaraan mengenai linguistik tradisional di atas, maka secara singkat dapat dikatakan, bahwa :

a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan;

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin;

c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prekriptif, yakni benar atau salah;

d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika;

e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai akibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak linguistik modern yaitu Fredinand de Saussure.

8.2.1. FERDINAND DE SAUSSURE

Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak ling modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan albert Sechehay tahun 1915.

Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

1) Telaah sinkronik dan diakronik

Telaan bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya.

2) Perbedaan La Langue dan La Parole

La Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkan yang dimaksud dengan La Parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa; sifatnya konkret karena parole itu tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain.

3) Perbedaan signifiant dan signifie

Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita.

4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatif

Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. ALIRAN PRAHA

Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Dalam bidang fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.

8.2.3. ALIRAN GLOSEMATIK

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya antara lain : Louis Hjemslev (1899 – 1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendiri.

Hjemslev juga menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan, dan mengakui adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

8.2.4. ALIRAN FIRTHIAN

Nama John R. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi.

Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu konsonan dan vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang dari pada suatu segmen tunggal. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal;

2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda; dan

3) Prosodi yang realisasi fonetisnya melampui satuan yang lebih besar daripada fonem-fonem suprasegmental.

8.2.5. LINGUISTIK SISTEMIK

Nama aliran linguistik sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K Halliday, yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar, maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Scals and Category Linguistics. Namun kemudian ada nama baru, yaitu Systemic Linguistics (SL).

Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah :

Pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.

Kedua, SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya pembedaan langue dan parole. Langue adalah jajaran pikiran yang dapat dipilih oleh seorang penutur bahasa, sedangkan parole merupakan perilaku kebahasaan yang sebenarnya.

Ketiga, SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, tidak atau kurang tertarik pada semestaan bahasa.

Keempat, SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

Kelima, SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa, yaitu :

1) Substansi

Yaitu suatu bunyi yang kita ucapkan waktu kita berbicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis.

Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan tulis disebut substansi grafis.

2) forma

Adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna.

Forma terbagi dua, yaitu : a) leksis, yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pola tempat butir-butir itu terletak; b) gramatika, yakni yang menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut.

3) Situasi

Situasi meliputi tesis, situasi langsung, dan situasi luas.

8.2.6. LEONARD BLOOMFIELD DAN STRUKTURALIS AMERIKA

Nama Leonard Bloomfield (1877 – 1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933), dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika.

Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran strukturalisme :

1) Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperlukan.

2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme.

3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language; wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

Ciri aliran strukturalis Amerika ini adalah cara kerja mereka yang sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memberikan suatu bahasa.

8.2.7. ALIRAN TAGMEMIK

Aliran ini dipelopori oleh Kenneth L. Price, seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfeld, sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut aliran ini satuan dasar dan sintaksis adalah tagmem.

Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling diperlukan untuk mengisi slot tersebut.

8.3. LINGUISTIK TRANFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu termasuk linguistik, bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu mencari kebenaran yang hakiki.

Begitulah, linguistik struktural lahir karena tidak puas dengan pendekatan dan prosedur yang digunakan linguistik tradisional dalam menganalisis bahasa. Sekian puluh tahun linguistik struktural digandrungi sebagai satu-satunya aliran yang pantas diikuti dalam menganalisis bahasa, walaupun model struktural itu pun tidak hanya satu macam.

8.3.1. TATA BAHASA TRANSFORMASI

Dapat dikatakan tata bahasa tranformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957 yang kemudian diperkembangkan karena adanya kritik dan saran dari berbagai pihak, di dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965.

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu :

1) Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

2) Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

8.3.2. SEMANTIK GENERATIF

Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky, antara lain Pascal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky, sebagai reaksi terhadap Chomsky, memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran sendiri. kelompok Lakoff ini, kemudian terkenal dengan sebutak kaum Semantik generatif.

Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3. TATA BAHASA KASUS

Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach, E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory, terbitan Holt Rinehart and Winston.

Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina.

8.3.4. TATA BAHASA RELASIONAL

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi.

Menurut Teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity), yaitu :

a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;

b) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;

c) Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakan elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini bagaimana studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

8.4.2. Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra (yang jumlahnya juga belum seberapa) dan di lembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun lima puluhan masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Perubahan baru terjadi, lebih tepat disebut perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern.

8.4.3. Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan.

8.4.4. Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia. Misalnya negeri Belanda, London, Amerika, Jerman, Rusia, dan Australia banyak dilakukan kajian tentang bahasa-bahasa Indonesia.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

Nama : Uswatul Hasanah

NIM : 1402408183

Rombel : 1

7. TATARAN LINGUISTIK (4): SEMANTIK

Status tataran semantik dengan tataran fonologi, morfologi,dan sintaksis adalah tidak sama, sebab secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morfem; satuan morfem dibangun oleh fonem; satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.

Para linguistik strukturalis mengabaikan masalah semantik karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun. Semantik tidak lagi menjadi objek poriferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya. Menurut teori Bapak Linguistik modern, Ferdinand de Saussure, tanda linguistic (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie, maka sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahhwa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Kalau tanda linguistic itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem; kalau tanda linguistic itu disamakan dengan morfeem, maka berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks.

Makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Kita dapat menentukan makna setelah dalam bentuk kalimat.

Contohnya: Sudah hampir pukul dua belas!

diucapkan oleh seorang ibu asrama putri kepada seorang pemuda maka bermaksud mengusir, sedangkan jika yang mengatakan adalah seorang karyawan kantor berarti menunjukkan waktu makan siang.

7.2 JENIS MAKNA

7.2.1 Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

1) Makna leksikal

Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Contoh: Kuda

Berarti ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

2) Makna gramatikal

Makna ini baru muncul setelah terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, kamposisi atau kalimatisasi.

Contoh: dengan dasar kuda menghasilkan arti ‘mengendarai kuda’.

Sintaksis kata-kata adik, menulis, dan surat menghasilkan makna gramatikal: adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’ dan surat bermakna ‘hasil’.

3) Makna kontekstual

Makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh:

Rambut di kepala nenek belum ada yang putus.

Nomor teleponnya ada pada kepala surat.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa terebut.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-Referensial

Kata atau leksem.disebut bermkna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Kata-kata dan, atau, karena itu sebaliknya.kata-kata deiktik, acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kemaujud yang lain.

Kata deiktik ini adalah yang termasuk pronomia, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan di situ; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata penunjuk, seperti ini dan itu.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Makna ini sejenis dengan makna leksikal. Umpamanya kata kurus, bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.

Makna konotatif adalah makna lain yang ‘ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contohnya kata bini, tewas, bunting, dan lain sebagainya.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Menurut Leech, makna konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut dengan makna konotatif, makna stilistika, makna efektif,dan makna kolokatif. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Umpamanya kata membedakan penggunaan kata rumah, pondok, istana, vila, dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terasa dalam bahas lisan. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata yang bersinonim sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Misalnya kata tampan yang bersinonoim dengan kata cantik dan indah hanya cocok berkolokasi dengan kata yang memiliki ciri ‘pria’.

7.2.5 MaknaKata dan Makna Istilah

Makna kata berawal dari makna leksikal, makna denotatif, dan makna konseptual, namun dalam penggunaannya menjadi jelas setelah sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Makna kata bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan, maknanya lazim dianggap sama.namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda setelah dimasukkan dalam sebuah kalimat. Istilah mempunyai makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu. Umpamanya kata lengan dan tangan. Kedua kata tersebut dalam bidang kedokteran memilki makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai jari tangan; sedangkan lengan bagian dari pergelangan sampai kepangkal bahu.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contohnya bentuk membanting tulang bermakna bekerja keras. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya menjual gigi, meja hijau, dan membanting tulang. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Peribahasa adalah idiom yang maknanya tidak dapat “diramalkan” secara leksikal maupun gramatikal namun maknanya masih bisa ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antar makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Contohnya peribahasa seperti anjing dan kucing yang bermakna ‘dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan atau kelebihan makna.

7.3.1 Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna dan bersifat dua arah. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dengan frase duduk perut. Ketidaksamaan makna yang bersinonim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

I. Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang yang bersifat klasik dengan kata komandan yang tidak cocok untuk koteks klasik.

II. Factor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya yang bisa digunakan di mana saja, sedngkan beta hanya cocok digunakan untuk wilayah Indonesia bagian timur.

III. Faktor keformalan. Misalya kata uang yang dapat digunakan dalam rangka formal dan tidak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

IV. Faktor sosial. Umpamanya kata saya yang dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.

V. Faktor bidang kegiatan. Misalnya, kata matahari yang biasa digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus terutama sastra.

VI. Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau yang masing-masing memiliki makna yang tidak sama.

7.3.2 Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua ujaran yang menyatakan kebalikan. Misalnya kata hidup berlawanan dengan kata mati. Dilihat dari sifat hubungannya, antonim dibagi menjadi:

i. Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya, kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.

ii. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonim secara relatif.

iii. Antonim yang bersifat rasional. Umpamanya kata membeli dan menjual, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

iv. Antonim yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim berantonim secara hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang.

Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongkok, dan bersila.

7.3.3 Polisemi

Polisemi adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia, sesuai dalam kalimat kepalanya luka kena pecahan kaca, (2) ketua atau pimpinan, seperti dalam kalimat kepala kantor itu bukan paman saya.

7.3.4 Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’.

Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan. Contoh yang ada hanyalah kata bank ‘lembaga ‘keuangan’ dengan kata bang yang bermakna ‘kakak laki-laki’. Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contohnya kata teras yang maknanya ‘inti’ dan kata teras yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.

Perbedaan polisemi dan homonimi adalah kalau polisemi merupakan bentuk ujaran yang maknanya lebih dari satu, sedangkan homonimi bentuk ujaran yang “kebetulan” bentuknya sama, namun maknanya berbeda.

7.3.5 Hiponimi

Hiponim adalah kata khusus sedangkan hipernim adalah kata umum. Contohnya kata burung merupakan hipernim, sedangkan hiponimnya adalah merpati, tekukur, perkutut, balam, dan kepodang.

7.3.6 Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7 Redundansi

Redundansi adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Perubahan makna dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Perkembangan bidang ilmu dan teknologi.

Misalnya kata berlayar dahulu mengandung makna ‘melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan tenaga layar’, tetapi untuk sekarang pun masih digunakan untuk menyebut perjalanan di air itu.

2. Perkembangan sosial budaya.

Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini kata sarjana itu hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

3. Perkembangan pemakaian kata.

Umpamanya, kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini digunakan juga dalam bidang pendidikan dengan makna ;bidang studi, vak’.

4. Pertukaran tanggapan indra.

Misalnya, rasa pedas seharusnya ditanggapi dengan indra perasa lidah menjadi ditanggapi oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.

5. Adanya asosiasii.

Maksudnya adalah adanya hubungan antar sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saja amplop, amplop itu bermakna ‘uang sogok’.

Perubahan makna kata ada beberapa macam, yaitu:

ü Perubahan makna kata meluas. Umpamanya, kata baju pada mulanya hanya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’ seperti pada kata baju batik; namun baju juga dapat bermakna berbeda bila yang dimaksud baju seragam yang meliputi celana, sepatu, dasi, dan topi.

ü Perubahan makna kata menyempit. Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

ü Perubahan makna secara total. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

7.5.1 Medan Makna

Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta. Misalnya, nama-nama warna dan nama-nama alat-alat rumah tangga. Medan makna dibagi menjadi dua, yaitu:

v Medan Kolokasi

Menunjukkan hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata atau unsur leksikal itu. Misalnya, kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, merica, dan lada berada dalm satu kolokasi, yaitu yang berkenaan dengan bumbu dapur.

v Medan Set

Menunjukkan hubungan paradigmatik karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa didistribusikan. Misalnya, kata remaja yang merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

7.5.2 Komponen Makna

Setiap makna atau butir leksikal mempunyai makna, dan setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen. Misalnya, kata ayah mempunyai komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Misalnya:

Nenek membaca komik

+nomina +verba +nomina

+manusia +manusia +bacaan

+bacaan

Sehubungan dengan kekacauan di blog ini…Maka dibuatlah blog lain…Dan untuk melakukan upload di blog baru…

Masalah yang terjadi adalah banyaknya data yang hilang atau belum terupload,,

Cek kembali karena tadi ditemukan banyak nama, tetapi tidak ada data di dalamnya…


demikian pemberitahuan dari kami.. kami akan memberikan info berikutnya di papan pengumuman kelas..


terima kasih…


OPERATOR dan Himpunan Komting Mahasiswa PGSD FIP UNNES 2008

Nama : Tri Hartanti

NIM : 1402408060

Rombel : 1

6. TATARAN LINGUISTIK (3): SINTAKSIS

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksi terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk membangun struktur tersebut.

Fungsi sintaksis terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang diibaratkan seperti kotak-kotak kosong yang tidak punya arti.

Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan numeralia.

Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran, waktu, dan sebagainya.

Contoh :

Ibu menyapu halaman tadi pagi.

Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku.

Susunan fungsi sintaksis tidak harus S, P, O, K. Yang tampak urutannya harus tetap adalah predikat dan objek. Suatu struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi predikat.

Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata, bentuk kata,intonasi dan konektor.

Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam Bahasa Indonesia, perbedaan urutan kata dapat menimbulkan makna yang berbeda.

Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna. Misal: melirik menjadi dilirik.

Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif, interogatif atau yang lainnya.

Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya. Ada dua macam konektor yaitu :

  1. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.
  2. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai penuturan.

Ada dua macam kata, yaitu :

  1. kata penuh

Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina, verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.

  1. Kata tugas

Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh : dan, meskipun.

Dari kedua kata tersebut, hanya kata penuh yang dapat mengisi fungsi sintaksis.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.

Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.

Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Contoh :

Nenek membaca koran di teras depan.

Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1Frase eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di pasar. Secara utuh dapat mengisi fungsi keterangan, tapi komponen di atau pasar saja tidak dapat menduduki fungsi tersebut. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :

- frase eksosentrik direktif

Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.

Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi. Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.

- frase eksosentrik non direktif

Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.

6.3.2.2Frase endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca menjadi membaca.

Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti pekerjaan sedang berlangsung.

Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.

6.3.2.3 Frase koordinatif

Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.

6.3.2.4 Frase apositif

Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :

Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi

Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.

6.3.3 Perluasan Frase

Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :

1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.

2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.

3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 Klausa

6.4.1 Pengertian

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap. Keterangan tidak wajib dalam klausa.

Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata akan menjadi kalimat minor.

6.4.2 Jenis klausa

1) berdasarkan strukturnya :

- klausa bebas

yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

- klausa terikat

struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama klausa atasan.

2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :

Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan proposisional.

Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan resiprokal.

6.5 Kalimat

.6.5.1 Pengertian

Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.

6.5.2 Jenis kalimat

6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti

K alimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.

Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti

6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat majemuk.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk dibedakan menjadi :

- kalimat majemuk koordinatif (setara)

Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, tetapi dan lalu. Bisa juga tanpa menggunakan konjungsi.

- kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)

Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan, sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Proses terbentuknya kalimat majemuk subkoordinatif ada dua sudut yang bertentangan :

- sebagai hasil penggabungan dua klausa atau lebih

- hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya

Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk campuran.

6.5.2.3Kalimat mayor dan minor

Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar. Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka termasuk kalimat minor.

6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal

Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.

Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.

6.5.2.5Kalimat bebas dan terikat

Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan yang berhubungan.

Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi menjadi ujaran lengkap.

Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain, tidak dapat memulai suat paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran lengkap.

6.5.3Intonasi kalimat

Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.

Macam intonasi :

- Tekanan : ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran

- Tempo : waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

- Nada : diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.

6.5.4Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Beberapa macam modus antara lain :

- modus indikatif / deklaratif : menunjukkan sikap objektif / netral.

- modus optatif : menunjukkan harapan / keinginan

- modus imperative : menunjukkan perintah / larangan

- modus anterogatif : menyatakan pertanyaan

-modus obligatif : menyatakan keharusan

- modus desideratif : menyatakan keinginan / kemauan

- modus kondisional : menyatakan persyaratan

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi. Macam aspek antara lain :

- aspek kontinuatif : menyatakan perbuatan terus berlangsung

- aspek repetitive : menyatakan perbuatan berulang-ulang

-aspek insentif : menyatakan perbuatan baru dimulai

- aspek progresif : menyatakan perbuatan sedang berlangsung

- aspek imperfektif : menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar

- aspek sesatif : menyatakan perbuatan sudah berakhir

6.5.4.3 Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan).

Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya, sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.

6.5.4.4Modalitas

Modalitas adlah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang lainnya. Jenis-jenis modalitas :

- intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)

- epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)

- deontik (keizinan, keperkenaan)

- dinamik (kemampuan)

6.5.4.5Fokus

Fokus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar / pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat dilakukan dengan berbagai cara :

- pemberian tekanan

- mengedepankan bagian yang ditonjolkan

- memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut

- mengontraskan dua bagian kalimat

- menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden

6.5.4.6Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis :

- aktif (subjek melakukan pekerjaan)

- pasif (subjek dikenai pekerjaan)

- refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)

- resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)

- kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)

6.6Wacana

6.6.1Pengertian

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kaliamat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.

Persyaratan gramatikal dipenuhi jika wacana sudah terbina kekohesian yang ditandai dengan keserasian hubungan antar kalimat.

6.6.2Alat wacana

Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan kohern. Ada 2 aspek, yaitu :

1) aspek gramatikal

- konjungsi (penghubung)

- kata gantio dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis

- menggunakan elipssis (penghilangan bagian kalimat yang sama)

2) aspek semantic

- hubungan pertentangan

- generic-spesifik dan sebaliknya

- hub. Perbandingan

- hub sebab-akibat

- hub tujuan

- rujukan yang sama

6.6.3Jenis wacana

1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis

2) Berdasarkan penggunaan bahsa : wacana prosa dan puisi

3) Berdasarkan isi : narasa, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

6.6.4Subsatuan wacana

Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,. paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.

6.7 Catatan mengenai Hierraki Satuan

Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.

Nama : Adi Setiawan

NIM : 1402408075

Rombel : 1

4. TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.1 FONETIK

Fonetik dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Sedang fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gelombang antara ujung lidah dengan gigi atas.

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok kepangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

4.1.4.2 Ditfong Atau Vokal Rangkap

Disebut ditfong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsona

Berdasarkan tempat artikulasinya n kita mengenal konsonan:

  1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas.
  2. Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah merapat pada bibir atas.
  3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi.
  4. Dorsavelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan langit-langit lunak.

Berdasarkan cara artikulasinya kita mengenal konsonan:

  1. Hambat (letupan, plosive, stip)
  2. Geseran atau frikatif.
  3. Paduan atau frikatif.
  4. Senggauan atau nasal.
  5. Getaran atau trill.
  6. Sampingan atau lateral.
  7. Hampiran atau aproksiman.

4.1.5 Unsur suprasegmental

4.1.5.1 Tekanan atau setress

4.1.5.2 Nada atau pitch

4.1.5.3 Jeda atau persediaan

4.1.6 Silabel

Silabel adalah satuan ritmiz terkescil dalam satua arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran

4.2 FONEMIK

4.2.1 Identifikasi fonem

Identifikasi sebuah fonem hanya berlaku dalam bahasa tertentu saja. Dalam bahasa Indonesia terdapat pada kata bebek lafalnya [bebek] dan kata bebe lafalnya [bebe].

4.2.2 Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem seperti bunyi [t] dan [th] untuk fonem [t] bahasa inggris diatas disebut alofon.

4.2.3 Klasifikasi fonem

Klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vocal dan kkonsonan itu banyak sekali,

maka fonem fokal dan fonem konsonan ini agak terbatas, sebab bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4 Khasanah fonem

Adalah banyak fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

4.2.5 Perubahan Fonem

4.2.5.1 asilimasi dan Disilimasi

Asilimasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau menjadi ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

4.2.5.2 Netralisasi dn Akrofonem

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang lebih tinggi.

Ablaud adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa ido Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4 Kontraksi

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

4.2.5.6 Fonem dan Grafem

Nama : Susi Widiawati

NIM : 1402408203

Rombel : 1

3. OBJEK LINGUISTIK:BAHASA

3.1. PENGERTIAN BAHASA

Bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna. Tetapi biasanya bahasa mempunyai pengertian sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis.

3.2. HAKIKAT BAHASA

Dari definisi bahasa didapati beberapa siswa yang hakiki dari bahasa (1) bahasa adalah sistem, (2) bahasa berwujud lambang, (3) bahasa berupa bunyi, (4) bahasa bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa bersifat unik, (8) bahasa bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

3.3. BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian lingustik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa.

Objek kajian linguistik makro sangat luas dan beragam. Masalah yang erat kaitannya dengan bahasa adalah masalah bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan sosial di dalam masyarakat, lebih jelasnya hubungan bahasa dengan masyarakat itu.

3.3.1. Masyarakat Bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Tetapi dari pengertian tersebut, maka konsep masyarakat bisa menjadi luas dan sempit.

Secara linguistik bahasa Indonesia dan Malaysia adalah bahasa yang sama, karena mempunyai banyak persamaan. Tetapi antara orang Indonesia dan Malaysia tidak merasa menggunakan bahasa yang sama.

3.3.2. Variasi dan Status Sosial Bahasa

Perbedaan 2 macam variasi bahasa berdasarkan status pemakainya, yaitu :

1) Variasi bahasa tinggi (T) digunakan dalam situasi resmi.

2) Variasi bahasa rendah (R) digunakan dalam situasi tidak formal.

3.3.3. Penggunaan Bahasa

Suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhati-kan 8 unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :

1. Setting and scene, berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya suatu percakapan.

2. Participants, orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

3. End, maksud dan hasil percakapan.

4. Act sequences, hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key, menunjuk pada cara dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumentalities, menunjuk pada jalur percakapan.

7. Norms, menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8. Genres, menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

.3.3.4. Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka, artinya para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Hal paling menonjol yang terjadi dari adanya kontak bahasa adalah bilingualisme dan multilingualisme dengan kasus interferensi, integrasi, alih kode dan campur kode. Adanya unsur bahasa lain dalam bahasa yang digunakan, namun konsep masalahnya tidak sama.

Kefasihan seseorang untuk menggunakan dua buah bahasa sangat tergantung pada adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu.

3.3.5. Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan “Bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya”.

3.4. KLASIFIKASI BAHASA

Dengan berkembangnya studi linguistik historis komparatif, studi yang mengkhususkan pada telaah perbandingan bahasa, maka orang mulai membuat klasifikasi terhadap bahasa-bahasa yang ada di dunia. Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu kelompok.

Klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan non artibtrer, ekshaustik, dan unik. Kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya, hanya harus ada satu kriteria. Ternyata dalam prakteknya tiga persyaratan itu tidak bisa dilaksanakan sebab banyak sekali ciri-ciri bahasa yang dapat digunakan untuk membuat klasifikasi itu. Pendekatan itu banyak, tapi yang bisa disebutkan 1) pendekatan genetis, 2) tipologis, 3) areal, 4) sosiolinguistik.

3.4.1. Klasifikasi Genetis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa itu. Dikarenakan asal tiap bahasa itu menyebar dan kemudian berubah. Sejauh ini dari hasil klasifikasi yang dilakukan dan diterima secara umum bahasa di dunia terbagi dalam sebelas rumpun bahasa yaitu rumpun Indo Eropa, rumpun Hamito Semit, rumpun Chairil-Nil, rumpun Finougria, rumpun Paleo Asiatis, rumpun Ural-Altai, rumpun Siho-Tibet, rumpun bahasa-bahasa Indian.

3.4.2. Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan kesamaan tipe. Hasil klasifikasinya menjadi bersifat arbitrer, karena tidak terikat oleh tipe tertentu tapi hasilnya tetap ekshaustik dan unik.

Klasifikasi pada tatanan morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX dibagi menjadi 3 kelompok.

1. Yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klafisikasi (bahasa berafiks dan bahasa berfleksi, bahasa tanpa struktur gramatical).

2. Menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi dibagi menjadi (1) akar kata yang monosilabis, (2) akar kata yang mampu mengadakan komposisi (3) akar kata yang disilabis dengan tiga konsonan.

3. Menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi (1) bahasa yang terbentuk, (2) bahasa yang tidak terbentuk (bahasa kolokatif, bahasa derivatif dengan jukstaposisi), (3) bahasa derivatif dengan perubahan akar kata.

Edward Sapir menggunakan 3 parameter untuk mengklasifikasi bahasa-bahasa yang ada di dunia (1) Konsep-konsep gramatical, (2) proses-proses gramatical, (3) tingkat penggabungan morfem dan kata.

3.4.3. Klasifikasi Areal

Berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetika atau tidak.

3.4.4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.

3.5. BAHASA TULIS DAN SISTEM AFSARA

Bahasa adalah sebuah sistem bunyi jadi bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Namun linguistik tidak menutup diri terhadap bahasa tulis. Karena bahasa tulis dekat sekali hubungannya dengan bangsa. Dalam linguistik bahasa lisan itu primer, bahasa tulis itu sekunder.

Hubungan antara fonem dengan huruf atau grafem ternyata juga bermacam-macam dalam bahasa tidak sama dengan jumlah huruf yang tersedia.

Ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya. Ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal namun tampaknya ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik dari pada ejaan bahasa Inggris.

Nama : Mohammad Latiful A.

NIM : 1402408106

Rombel : 1

5. TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Fonem adalah satuan bunyi terkecil dari arus ujaran. Sebagai satuan fungsional morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Dalam bab ini akan membicarakan seluk beluk morfem sebagai berikut :

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis,dan tidak semua morfem mempunyai makna filosofis.

5.1.1 Identifikasi morfem

Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain maka bentuk tersebut adalah morfem. Contoh kata /kedua/,/ketiga/,/kelima/. Bentuk ke merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna sama.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Alomorf adalah Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama atau perwujudan konkret dalam sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf,selain itu bisa juga morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya. Contoh me-,mem-,meny-,dll.

5.1.3 Klasifikasi morfem

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam peraturan.contoh bentuk pulang,makan,rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam peraturan.

Berdasarkan jenis fonem yang membentuknya :

v Morfem segmental adalah morfem dibentuk oleh fonem-fonem segmental.contoh morfem {lihat},{lah},{sikat},dan {ber}.

v Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur surpasegmental. Contoh tekanan.nada,durasi.

Ø Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan berupa “kekosongan”. Contoh book menjadi books.

Ø Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain. Contoh {kuda},{pergi},{lari},dan{merah}.

Ø Morfem tak bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang tidak memiliki makna apa-apa pada dirinya sendiri. Contoh {ber},{me},{ter}.

Ø Morfem dasar : morfem ini ada yang termasuk morfem terikat tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas dan biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.contoh {juang},{kucing}. Bentuk dasar digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Seperti kata berbicara yang terdiri morfem ber- dan bicara, maka bicara adalah menjadi bentuk dasar pada kata berbicara.

5.2 KATA

Menurut tata bahasawan tradisional kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau deretan huruf yang diapit oleh dua buag spasi dan mempunyai satu arti. Seperti sikat,kucing,dan spidol.

5.2.1 Klasifikasi Kata

Para tata bahasawan tradisional (kriteria makna dan kreteria fungsi)

- verba : kata yang menyatakan tindakan

- nomina : kata yang menyatakan benda / dibendakan

- konjungsi : kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Para tata bahasawan strukturalis (distribusi kata itu dalam suatu struktur / konstruksi)

- nomina : kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukan

- verba : kata yang berdistribusi di belakang kata tidak

- ajektiva : kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat

kelompok linguis (kriteria fungsi sintaksis)

- subjek diisi oleh kelas nomina

- predikat diisi oleh verba / ajektifa

- objek diisi oleh kelas nomina

- keterangan diisi oleh kelas adverbia

5.2.2 Pembentukan Kata

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat :

Ø bersifat inflektif

Ø bersifat derivatif

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnyatidak sama dengan kata dasarnya. Contoh : kata air berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afisaksi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar yang melibatkan unsur-unsur dasar atau bentuk dasar, afiks, makna gramatikal yang dihasilkan.

Afiks adalah sebuah bentuk berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Afiks dibagi menjadi dua :

  1. Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata aflektif atau paradigma infleksional.
  2. Afiks derivatif adalah kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

· Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar. Contoh me- pada kata menghibur. Prefiks juga dapat muncul dengan sufiks / afiks lain. Contoh prefiks ber- bersama sufiks ­-kan pada kata berdasarkan.

· Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Contoh infiks ­-el­­- pada kata telunjuk, -er- pada kata seruling.

· Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Contoh sufiks –an pada kata bagian, -kan pada kata bagikan.

· Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Contoh konfiks per-/-an pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an pada kata keterangan.

· Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

· Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Istilah-istilah reduplikasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda adalah :

Dwilingga yakni pengulangan morfem dasar. Contoh meja-meja, aki-aki, mlaku-mlaku.

Dwilingga salin swara adalah pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lain. Contoh bolak-balik, mondar-mandir, langak-longok.

Dwipurwa adalah pengulangan silabel pertama. Contoh lelaki,peparu,pepatah.

Dwiwasana adalah pengulangan pada akhir kata. Contoh cengengesan,

Trilingga adalah pengulangan morfem dasar sampai sua kali. Contoh dag-dig-dug,cas-cis-cus.

Reduplikasi dalam bahasa Indonesia ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan :

1. bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar. Contoh meja menjadi meja-meja.

2. Bentuk reduplikasi yang disertai afiks proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan seperti berton-ton, proses reduplikasi terjadi lebih dahulu baru disusul oleh proses afiksasi seperti berlari-lari (dasarnya lari-lari), proses afiksasi terjadi lebih dahulu kemudian diikuti oleh proses reduplikasi seperti kesatuan-kesatuan,memukul-memukul (dasarnya kesatuan,memukul).

3. Pada dasar yang berupa gabungan kata proses reduplikasi harus berupa reduplikasi penuh tetapi mungkin berupa reduplikasi parsial. Contoh ayam itik-ayam itik (dasarnya ayam itik).

4. Banyak orang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia besifat paradigmatis dan memberi makna jamak/kevariasan. Contoh mereka-mereka,kamu-kamu.

5. Reduplikasi semantis yakni dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Contoh ilmu pengetahuan,hancur luluh.

6. Dalam bahasa Indonesia ada bentu-bentuk seperti kering-kerontang,tua-renta,segar-bugar.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda. Contoh lalu lintas, daya juang

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vocal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan).

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Contoh lab (utuhnya laboratorium), hlm (utuhnya halaman).

5.3.6 Produktivitas Proses Morfemis

Produktivitas proses morfemis : dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi,reduplikasi,dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas ; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4 Morfofonemik

Morfofonemik / morfonemik / morfofonologi / morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses morfofonem ini dapat berupa : pemunculan fonem, pelepasan fonem, peluluhan fonem, perubahan fonem, pergeseran fonem.

Contoh :

Pemunculan fonem : pengimbuhan prefiks me- pada bentuk dasar baca menjadi membaca.

Pelepasan fonem : pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah di mana fonem /h/ menjadi hilang.

Peluluhan fonem : pengimbuhan prefiks me- pada kata sikat di mana fonem /s/ diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/.

Perubahan fonem : pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar di mana fonem /r/ berubah menjadi /l/.

Pergeseran fonem : pengimbuhan sufiks /an/ pada kata jawab di mana fonem /b/ yang ada pada silebel /wab/ pindah ke silabel /ban/.

Nama : Rochmat Zaenuri Noor

NIM : 1402408317

Rombel : 1

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepatnya telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Untuk memahami linguistik sebagai sebuah ilmu yang ilmiah akan dibahas pada bab ini.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Pada dasarnya setiap ilmu mengalami tiga tahap perkembangan antara lain sebagai berikut:

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Pada tahap ini pengambilan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu.

Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengupulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis-hipotesis, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah menggalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin ilmu linguistik sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebabnya, bidang simantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek simantik, tidak dapat diamati secara empiris; tidak seperti fonem dalam fonologi atau morfem dan kata dalam morfologi. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini disebut kesimpulan induktif. Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguuistik sering disebut sebagai ilmu nomotetik.

Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya, linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan; tetapi akan menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka lingistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sendiri sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Secara diakronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu.

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara diskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut peneliti seharusnya diungkapkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin). Demikian pula dengan linguistik. Di sini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan :

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pertanyaan-pertanyaan teoretis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu.

Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa inggris, bahasa jawa, atau bahasa Indonesia.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa terbatas. Misalnya mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahaasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komperatif.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro

Linguistik mikro mengarahkan pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau pada umumnya. Linguistik mikro mempunyai sudisiplin antara lain:

Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Dalam berbagai buku biasanya terdapat subdisiplin linguistik makro antara lain:

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Psikolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Antropolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Stilistika mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra. Finologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filsafat bahasa mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dialektologi mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2.2.4 Berdasrkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa di kenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik semantik.

Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tidak akan bisa menguasai semua bidang linguistik itu. Tapi meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang yang termasuk linguistik mikro.

2.3 ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Semua tataran sistematika itu akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

2.3.1 Struktur, Sistem, dan DistribusiMenurut F. De Saussure ada dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak susunan suatu kalimat.

Hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifai sigmantis. Jadi hubungan sintagmantis ini bersifat linear, atau horison antara satuan yang satu dengan satuan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis. Mengenai semuanya akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis L. Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.

Teknik analisis bawahan langsung bermanfaat untuk menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur (item and arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun. Jadi, dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . .”, bukan “dibentuk dari . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.

Analisis proses unsur (item and process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Lingustik akan memberikan manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa.

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

Bagi guru, terutama guru bahasa, penetahuan linguistik sangat penting. Dengan menguasai linguistik, maka mereka akan dapat dengan lebih mudah dalam menyampaikan mata pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik, tetapi juga berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperliukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugas.

Pengetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntutan bagi penyusun buku teks dalam meyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.



  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.