Cakrabuwana’s Weblog

Resume Linguistik Umum

Posted on: September 26, 2008

Nama : Dea Eka A
NIM : 1402408241

7. TATARAN LINGUISTIK (4):
SEMATIK

7. 1. HAKIKAT MAKNA
Menurut de Saussure setiap tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu kompenen signifikan atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep.
Contoh: Tanda linguistik berupa meja, terdiri dari:
Komponen signifikan : /m/, /e/, /j/, /a/
Komponen signifie : sejenis perabot kantor atau rumah tangga.
Keduanya mengacu pada sebuah referen yang berada di luar bahasa, yaitu “sebuah meja”.
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah “pengertian” yang terdapat pada tanda linguistik.
Dalam praktek bahasa tanda linguistik berwujud apa. Jika disamakan identitasnya dengan kata maka berarti makna adalah pengertian/konsep yang dimiliki setiap kata. Jika disamakan dengan morfem maka berarti makna itu adalah pengertian yang dimiliki morfem baik morfem dasar/morfem afiks.
Tidak semua kata/leksem mempunyai acuan konkret di dunia nyata, misalnya seperti agam, kebudayaan dan keadilan.
Dalam penggunaannya makna kata biasanya terlepas dari pengertian/konsep dasarnya dan acuannya.
Contoh : Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya.
Kata buaya sudah terlepas dari konsep asal dan acuannya.
Jadi bisa dikatakan kita baru dapat menentukan makna sebuah kata jika sudah ada dalam konteks kalimatnya dan wacana atau konteks situasinya.

7. 2. JENIS MAKNA
1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
a. Makna Leksikal
Adalah makna yang sebenarnya yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.
Contoh: Kata kuda makna leksikal “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”.
b. Makna Gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal
Misal: Afiksasi prefiks ber– dengan dasar baju menghasilkan makna “memakai baju”.
c. Makna Kontekstual
Adalah makna sebuah leksem yang berada di dalam satu konteks.
Contoh: Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
2. Makna Referensial dan Non-Referensial
Dikatakan bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya dalam dunia nyata seperti kuda, merah, gambar.
Sedangkan kata non-referensial adalah kata yang tidak memiliki referens seperti dan, atau, dan karena.
3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya.
Contoh: Kata babi bermakna denotatif sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk diambil dagingnya.
Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contoh: Kata babi, oleh orang Islam mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan tidak enak saat mendengar kata itu.
Kata kurus, ramping, dan kerempeng secara denotatif bersinonim tetapi berkonotasi berbeda-beda.
Kurus berkonotasi netral.
Ramping berkonotasi positif.
Kerempeng berkonotasi negatif.
4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.
Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
Contoh: Kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
5. Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata memiliki makna. Penggunaan makna kata akan jelas kalau kata itu berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Kita belum tahu makna kata jatuh sebelum kata itu berada dalam konteksnya. Sehingga dapat dikatakan makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan, maknanya dianggap sama.
Istilah memiliki makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Misalnya kata tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.
6. Makna Idiom dan Peribahasa
Ada 2 macam idiom:
 Idiom penuh: idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimilikin berasal dari seluruh kesatuan itu.
Contoh: membanting tulang, menjual gigi, meja hijau, dll.
 Idiom sebagian: idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri.
Contoh: buku putih, daftar hitam, koran kuning.
Peribahasa mempunyai makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya.
Contoh: seperti anjing dengan kucing.

7. 3. KELASI MAKNA
1. Sinonim
Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Bersifat 2 arah.
Contoh: Betul = Benar
Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak pernah sama. karena beberapa faktor, yaitu:
 Faktor waktu
Contoh: hulubalang (klasik) = komandan
kempa (klasik) = stempel
 Faktor tempat atau wilayah
Contoh: saya = beta
 Faktor keformalan
Contoh: uang = duit
 Faktor sosial
Contoh: saya = aku
 Faltor bidang kegiatan
Contoh: matahari = surya (sastra)
 Faktor nuansa makna
Contoh: melirik = menonton = meninjau = mengintip
2. Antonim
Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup.
Antonim dapat dibedakan atas beberapa jenis:
 Antonim yang bersifat mutlak
Contoh: mati  hidup
 Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi
Contoh: besar >< gram
karena kedua kata tersebut berada dalam satu garis jenjang atau hierarki.
3. Polisemi
Yaitu suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh: kata kepala mempunyai makna bagian tubuh manusia, ketua atau pimpinan, sesuatu yang berada di atas, sesuatu yang mempunyai bentuk bulat, sesuatu yang sangat penting.
4. Homonimi
Yaitu dua buah kata yang bentuknya “kebetulan” sama, maknanya tentu saja berbeda karena masing-masing merupakan kata yang berlainan.
Misalnya: kata bisa yang berarti “racun ular” dan kata bisa yang berarti sanggup.
kata mengurus yang berarti “mengatur” dan kata mengurus yang berarti “menjadi kurus.
 Homofoni
Adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan.
Contoh: bisa yang berarti “racun ular” dan bisa yang berarti “sanggup”
bang (singkatan dari abang) dan bank (lembaga keuangan)
 Homografi
Mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.
Contoh: memerah (menjadi merah) dan memerah (melakukan perah)
5. Hiponimi
Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Misalnya: kata merpati mencakup dalam kata burung. Jadi merpati adalah hiponim dari burung dan burung berhipernim dengan merpati.
Jadi merpati, tekukur, perkutut adalah hiponim
Burung adalah hipernim
6. Ambiguiti atau Ketaksaan
Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh: buku sejarah baru
Dapat ditafsirkan: (1) buku sejarah itu baru terbit
(2) buku itu memuat sejarah zaman baru
7. Redundansi
Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Misal: kalimat Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Jadi tanpa penggunaan preposisi “oleh”. Nah penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

7. 4. PERUBAHAN MAKNA
Dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang telatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Kemungkinan ini berlaku hanya terjadi pada sejumlah kata yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:
a. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.
Contoh: misalnya kata sastra pada mulanya bermakna “tulisan, huruf” lalu berubah menjadi “bacaan” lalu berubah lagi menjadi bermakna “buku”, selanjutnya berkembang lagi menjadi “karya bahasa yang bersifat imaginatif dan kreatif”.
b. Perkembangan sosial budaya
Contoh: kata saudara mulanya berarti “seperut”. Tetapi kini, kata saudara digunakan untukmenyebut orang lain, sebagai kata sapaan, yang sederajat baik usia maupun kedudukan sosial.
c. Perkembangan pemakaian kata
Contoh: kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna “mengerjakan, membuat”, seperti dalam menggarap rancangan undang-undang lalu lintas.
d. Pertukaran tanggapan indra
Contoh: rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditangkap oleh alat pendengar telinga. Seperti pada ujaran kata-katanya sangat pedas.
Perubahan tanggapan indra ini disebut sinestesia.
e. Adanya asosiasi
Contoh: kata amplop makna sebenarnya adalah “sampul surat”. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saya amplop, amplop bermakna “uang sogok”.
Perubahan makna yang menyempit artinya sebuah kata yang memiliki makna sangat umum menjadi khusus atau sangat khusus.
Contoh: sarjana (sangat cerdik) → sarjana (lulusan perguruan tinggi).
Perubahan makna secara total, artinya makna yang dimiliki sekarang sudah berbeda dengan makna aslinya.
Contoh: kata ceramah dulu bermakna “cerewet”, sekarang bermakna “uraian mengenai suatu hal dimuka orang banyak”.

7. 5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
Kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal.
1. Medan Makna
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan.
Misalnya nama-nama warna, nama perabot rumah tangga
2. Komponen Makna
Makna setiap kata terdiri dari sejumlah komponen, yang membentuk keseluruhan makna kata itu.
Contoh: kata ayah memiliki komponen makna manusia, dewasa, jantan, kawin, dan punya anak.
3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik
Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal juga masalah semantik.
Amati keempat kalimat berikut akan tampak perbedaan ketidakterimaannya
a. *Kambing yang Pak Udin terlepas lagi.
b. *Segelas Kambing minum setumpuk air.
c. *Kambing itu membaca komik.
d. *penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta orang.
Kalimat (a) karena kesalahan gramatikal yaitu adanya konjungsi “yang”.
Kalimat (b) karena kesalahan persesuaian leksikan seharusnya bukan segelas kambing tetapi seekor kambing.
Kalimat (c) karena tidak adanya persesuaian semantik antara kata kambing dan membaca.
Kalimat (d) karena kesalahan informasi. Dewasa ini penduduk DKI Jakarta hanya 8 juta, bukan 50 juta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: