Cakrabuwana’s Weblog

bab 6 Riska Hani P

Posted on: September 28, 2008

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Nama : Riska Hani P

NIM : 1402408180

BAB 6

SINTAKSIS

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “sun” yang berarti “dengan” dan kata “tattein” yang berarti “menempatkan”. Secara etimologi sintaksis berarti : menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata / kalimat.

Pembahasan sentaksis meliputi :

  1. STRUKTUR SINTAKSIS

Maliputi tentang fungsi sintaksis, kategori sintaksis dan peran sintaksis. Menurut Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur SPOK itu merupakan ”kotak-kotak kosong” atau ”tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu. Contoh :

  • Nenek melirik kakek tadi pagi.

Tempat kosong yang bernama subjek diisi oleh kata ”nenek” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”pelaku (agentif). ”Predikat diisi oleh kata ”melirik” yang berkategori ”verba” yang memiliki peran ”aktif”. Objek diisi oleh kata ”kakek” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”sasaran”. Tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frase ”tadi pagi” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”waktu”.

Struktur sintaksis menimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Sedangkan objek dan keterangan boleh tidak muncul.

Konektor adalah alat sintaksis yang biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. konektor itu bertugas menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain, baik yang beada diluar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya koektor ada dua macam :

  1. Konektor koordinatif

Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya atau sekerajat.

Konjungsi koordinatif seperti dan, atau, & tetapi dalam bahasa Indonesia adalah konektor koordinatif, contoh :

    • Nenek ”dan kakek pergi berburu.

    • Dia memang galak tetapi hatinya baik.

  1. Konektor subordinatif

Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Maksudnya konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya kalau, meskipun dan karena. Contoh :

  • Kalau diundang, saya tentu akan datang.

  • Dia pergi juga meskipun hari hujan.

  1. KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam tatasan morfologi ”kata’ merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis ”kata” merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkeal menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam bab ini ”kata” hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dlam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase, klausa, & kalimat.

Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, ”kata” berperan sebagai pengisi fungsi sentaksis, sebagai penanda kaerori sintaksis dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan / bagian-bagian dari satuan sintaksis. ”Kata” dibedakan menjadi 2 macam :

  1. Kata penuh (fullsord)

Adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan. Seperti kata ”kucing” di beri prefiks ber-disetai perulangan, & di beri surfiks –an, menjadi ”berkucing-kucingan”.

  1. Kata tugas (function word)

Adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat bersendiri. Sesuai dengan namanya, yaitu kata tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada dibelakangnya (untuk konjungsi), atau yang ada di depannya (untuk posposisi), dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi), contoh :

    • Bu Leoni sedang membahas penggunaan preposisi in, on dan at dalam bahasa Inggris. Maksudnya yang dibahas bu Leoni bukan in, on dan at itu, melainkan preposisi in, preposisi on, dan preposisi at.

  1. FRASE

Frase Lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Jadi, hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur “SP” atau “PD”. Maka frase adalah konstituen pengisi fungsi-fungsi sintaksis, sehingga salah satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan “sendirian”.

Contoh frase :

Nenek saya sedang membaca buku humor di kamar tidur

S P O K

  • Jenis-jenis frase.

      1. Frase Eksosentrik

Adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Misal : frase “di pasar”, terdiri dari komponen “di” & komponen “pasar”. Secara utuh frase ini dapat mengisi fungsi keterangan. Frase eksosentrik dibedakan menjadi:

        1. Frase eksosentrik yang direktif

Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di,ke dan dari” dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.

Contoh : – di pasar

– dari kayu jati

– demi keamanan

        1. Frase eksosentrik yang non direktif

Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”, “para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori nomina, adjektiva atau verba

Contoh : – si miskin

– para remaja masjid

      1. Frase Endosentrik

Adalah frase yang salah satu komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya.

Misal : – Nenek sedang membaca komik di kamar.

– Nenek membaca komik di kamar

yang berarti ”membaca” dapat menggantikan frase” sedang membaca”

      1. Frase Koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal (dan, atau, tetapi) maupun konjungsi terbagi (baik….baik, makin…makin, baik….maupun….).

Contoh : – sehat dan kuat

– makin terang makin baik.

      1. Frase Apositif

Adalah frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh karena itu urutan komponennya dapat dipartukarkan.

Contoh : – Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.

  • Perluasan Frase

Dalam Bahasa Indonesia perluasan frase ini tampakny sangat produktif, antara lain karena adanya faktor :

    1. Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus atau sangat khusus sekali biasanya diterangkan secara leksikal.

Contoh : kereta

Kereta api

Sebuah kereta api ekspres

    1. Bahwa pengungkapan konsep kata, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa-bahasa fleksi, melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.

    2. Keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap konsep terutama untuk konsep nomina, biasanya digunakan konjungsi “yang” untuk penyambung keterangan-keterangan tambahan.

Contoh : – Kakak saya meninggal minggu lalu.

Kakak saya yang bekerja di Jakarta meninggal seminggu yang lalu

  1. KLAUSA

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif yang didalam konstruksi itu ada komponen berupa kata/frase yang berfungsi sebagai predikat, sebagai subjek yang dikatakan bersifat wajib, sebagai objek dan sebagai keterangan.

Contoh : – Kakek membaca koran tadi pagi/

Contoh dalam kalimat majemuk koordinatif yang terdapat dua buah klausa :

  1. Nenek membaca komik

  2. Kakek membaca koran

  • Nenek membaca komik sedangkan kakek membaca koran.

Contoh klausa yang terletak ditengah kalimat karena disisipkan sebagai keterangan tambahan.

    1. Gadis itu bukan cucu nenek

    2. Gadis itu duduk di depan

  • Gadis yang duduk di depan itu bukan cucu nenek.

    • Jenis Klausa

  • Berdasarkan strukturnya :

  1. Klausa Bebas

Adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap minimal mempunyai subjek dan predikat, karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor.

Contoh : – Nenekku masih cantik

– Kakekku gagah berani

Mayor — Nenekku masih cantik dan kakekku gagah berani.

  1. Klausa Terikat

Adalah klausa yang mempunyai struktur yang tidak lengkap. Unsur yang ada dalam klausa ini mungkin hanya subjek saja/objek saja / keterangan saja.

Contoh : – Konstruksi “ tadi pagi” yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya “Kapan nenek membaca koran ?”

  • Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dibedakan menjadi :

    1. Klausa Verbal

Adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Misal : nenek mandi, matahari terbit.

Macam-macam tipe verba :

  1. Klausa Transitif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif. Misal : Kakak menulis surat.

  1. Klausa Intrasitif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif. Misal : adik melompat-lompat ibu sedang berdandan.

  1. Klausa Refleksif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif. Misal : ibu sedang berdandan.

  1. Klausa Resiprokal

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal. Misal : mereka bertengkar sejak kemarin

    1. Klausa Nominal

Adalah klausa yang predikatnya berupa nomina/frase nominal

Contoh : – petani —–————-Kakeknya petani di desa itu.

– dosen linguistik ——Dia dulu dosen linguistik

    1. Klausa Ajektifal

Adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa baik berupa kata maupun frase.

Contoh : – Ibu dosen itu cantik sekali

    1. Klausa Adverbial

Adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial

Contoh : – Bandelnya teramat sangat.

    1. Klausa Preposisional

Adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi.

Contoh : Nenek ada di kamar, dia datang dari Medan dan kakek pergi ke pasar baru

    1. Klausa Numeral

Adalah klausa yang predikatnya berupa kata/frase numeralia.

Contoh : – Gajinya adalah lima juta sebulan, anaknya ada dua belas orang, dan taksinya ada delan buah.

  1. KALIMAT

Adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap.

Disini dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil dengan mengikuti konsep, bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan intonasi final.

  • Jenis Kalimat

    1. Kalimat inti dan kaliman non inti

Kalimat inti disebut juga kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif. Dalam bahasa Indonesia paling tidak kalimat inti kita dapati dengan pola sebagai berikut :

      • FN + FV = Nenek datang

      • FN + FV + FN = Nenek membaca komik

      • FN + FV + FN + PN = Nenek membacakan kakek komik

      • FN + FN = Nenek dokter

      • FN + FA = Nenek cantik

      • FN + Fnum = Uangnya dua juta

      • FN + FP = Uangnya di dompet

Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai proses transformasi.

Dengan demikian dapat dibagankan :

+ =

    1. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal —– klausanya hanya satu

Kalimat majemuk —-klausa dalam kalimat terdapat lebih dari satu

Macam-macam kalimat majemuk :

              1. Kalimat majemuk koordinatif.

              2. Kalimat majemuk subordinatif

              3. Kalimat majemuk kompleks.

    1. Kalimat mayor dan kalimat minor

Kalimat mayor ——- klausanya lengkap, minimal mempunyai subjek dan predikat

Kalimat minor ——— klausanya tidak lengkap, hanya terdiri dari S/P/O/K saja.

    1. Kalimat verbal dan kalimat non verbal’

    2. Kalimat bebas dan kalimat terikat.

  • Intonasi Kalimat

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa. Jadi kalau intonasi dari sebuah kalimat ditinggalkan maka sisanya adalah klausa.

Ciri-ciri intonasi berupa adanya tekanan, tempo dan nada.

  • Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus dan Diatesis

  1. Modus

Adalah pengungkapan / penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus :

  1. Modus indikatif/ deklaratif (sikap objektif/netral)

  2. Modus optatif ( harapan/keinginan ).

  3. Modus imperatif ( perintah,larangan ).

  4. Modus interogatif (pertanyaan).

  5. Modus obligatif (keharusan).

  6. Modus desideratif ( keinginan/kemauan ).

  7. Modus kondisional (persyaratan).

  1. Aspek

Adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian/proses.

Macam-macam aspek :

  1. Aspek Kontinuatif (perbuatan truz berlangsung).

  2. Aspek inseptif (peristiwa baru mulai).

  3. Aspek progresif (perbuatan sedang berlangsung).

  4. Aspek repetitif (perbuatan terjadi berulan-ulang)

  5. Aspek perfektif (perbuatan sudah selesai).

  6. Aspek imperfektif (perbuatan berlangsung sebentar).

  7. Aspek sesasif (perbuatan berakhir).

  1. Kala/Tenses

Adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

  1. Modalitas

Adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan terhadap lawan bicaranya.

Jenis-jenis modalitas :

  1. Modalitas intensional (keinginan, harapan, ajakan).

  2. Modalitas epistemik (kemungkinan, kepastian).

  3. Modalitas deontik (keizinan/keperkenaan)

  4. Modalitas dinamik (kemampuan)

  1. Fokus

Adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

  1. Diatesis

Adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis :

Diatesis aktif

Diatesis pasif

Diatesis refleksif

Diatesis resiprokal

Diatesis kausatif

  1. WACANA

Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

  • Jenis Wacana

Berdasarkan sarananya :

  1. Wacana lisan

  2. Wacana tulisan

Berdasarkan penggunaan bahasanya :

  1. Wacana prosa, meliputi :

              1. Wacana narasi (menceritakan).

              2. Wacana eksposisi (memaparkan).

              3. Wacana persuasi (mengajak atau melarang )

              4. Wacana argumentasi (berargumen atau alasan ).

  1. Catatan Mengenai Hierarki Satuan

Dalam pembahasan subbab di atas dapat dilihat bahwa sebuah kata atau frase dengan persyaratan tertentu dapat menjadi sebuah kalimat dengan urutan hierarki satuan-satuan linguistik, yaitu : fonem membentuk morfem, morfem membentuk kata, kata membentuk frase, frase membentuk klausa, klausa membentuk kalimat, akhirnya kalimat akan membentuk wacana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: