Cakrabuwana’s Weblog

Bab 5

Posted on: September 28, 2008

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {margin-right:0cm; mso-margin-top-alt:auto; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:614364732; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:96911508 1607474580 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1722056012; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-643562784 106471238 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>RESUM LINGUISTIK UMUM

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD
Dosen Pengampu : Drs. Umar Samadhy

Disusun Oleh :

TUTY HIJRIANA

1402408176

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2008

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

5.1. MORFEM

5.1.1. Identifikasi Morfem

Mofem adalah satuan bentuk yang hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, dengan tetap memiliki makna yang sama.

5.1.2. Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3. Klasifikasi Morfem

5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh.

Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang terpisah.

5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan durasi.

5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Istilah Bentuk dasar atau dasar (base) adalah bentuk yang menjadi dasar

dalam suatu proses morfologi. Umpamanya pada kata berbicara yang terdiri

dari morfem ber– dan bicara, maka bicara adalah menjadi bentuk dasar dari

kata berbicara itu, atau disebut sebagai morfem dasar. Istilah pangkal (stem)

digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, contohnya

kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi dan morfem me- adalah

sebuah afiks inflektif. Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang

tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi,artinya akar itu adalah bentuk yang

tersisa setelah semua afiksnya ditanggalkan.Misalnya kata inggris

untouchables akarnya adalah touch.

5.2. KATA

5.2.1. Hakikat Kata

Kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu sudah bersifat final.

5.2.2. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, ajektiva, sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina. Tata bahasawan struturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lain menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memang perlu dengan mengenal sebuah kata, kita dapat memprediksi penggunaan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3. Pembentukan Kata.

5.2.3.1. Inflektif.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional.

5.2.3.2. Derivatif

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasar. Pembentukan kata secara derivatif/ derivasional membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Jenis afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a) Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

b) Afiks derivatif adalah afiks yang digunakan dalam membentuk kata baru (kata leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya).

Berdasarkan posisi melekatnya pada bentuk dasar :

1) Prefiks : Afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar

2) Infiks : Afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar

3) Sufiks : Afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar

4) Konfiks : Afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus.

Struktur ð untuk menyebut gabungan afiks yang bukan konfiks

5) Interfiks : Sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan 2 buah unsur.

6) Transfiks : Afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

5.3.2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

5.3.3. Komposisi

Adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi

Ÿ Konversi, derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Ÿ Modifikasi internal, penambahan internal, dan perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Ada sejenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi. Dalam suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi. Boleh dikatakan bentuk dasar itu berubah total.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4. Morfofonemik

Morfofonemik, morfonemik, morfofonologi atau morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem

2. Pelepasan fonom

3. Peluluhan fonem

4. Peubahan fonem

5. Pergeseran fonem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: