Cakrabuwana’s Weblog

Dinar Dwisantoso (1402408092) Sejarah Dan Aliran linguistik

Posted on: Oktober 9, 2008

Nama : Dinar Dwie Santoso
NIM : 1402408092

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK
Ada yang tahu tentang perkembangan sejarah linguistik? Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan. Namun untuk mengetahui lebih jelas sejarah dan aliran linguistik dari zaman purba sampai zaman mutakhir, ayo kita pelajari bersama.

Linguistik Tradisional
Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Untuk lebih tahu bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional yang telah melalui masa yang sangat panjang, zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistik modern. Mari kita pelajari bersama:
Linguistik Zaman Yunani (± abad ke – 5 SM)
Pada masa ini yang menjadi pertentangan para linguis adalah:
Bersifat Fisis dan Nomos
Bersifat fisis/alami maksudnya bahasa itu mempuyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri sedangkan bahasa yang bersifat nomos/konvensi artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Berikut ini beberapa kaum/tokoh yang mempunyai peranan besar pada zaman Yunani:
Kaum Sophis
Mereka dikenal antara lain karena mereka bekerja secara empiris, pasti, mementingkan bidang retorika dan bisa membedakan tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokoh: Protogoras, Georgias.
Plato (429 – 347 SM)
Aristoteles (384 – 322 SM)
Aristoteles selalu bertolak dari logika.
Kaum Stoik
Kaum Alexandrian
Kaum ini mewarisi Dionysius Thrax, buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya.

Zaman Romawi
Tokoh yang terkenal pada zaman ini
Varro dan “De Lingua Latina”
Institutiones Grammaticase/Tata Bahasa Priscia
Buku ini menjadi dasar tata bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan.

Zaman Pertengahan
Dari zaman pertengahan ini yang patut di bicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah:
Kaum Modistae yang masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.
Tata bahasa Spekulativa, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.
Petrus Hispanus. Peranannya di bidang linguistik antara lain:
Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa
Membedakan nomen atas 2 macam
Membedakan prates orationes atas categorematik dan syntategorematik.

Zaman Renainans
Pada zaman ini ada 2 hal yang menonjol yaitu:
Selain menguasai bahasa latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, Ibrani, dan Bahasa Arab.
Selain bahasa di atas, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan membandingkan.

Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Konsep dan pegangan tata bahasa tradisional terhadap bahasa tidak sama dengan konsep menurut linguistik modern.

Linguistik Strukturalis
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Bapak linguitik modern, yaitu Ferdinand de Saussure.
Ferdinand de Saussure
Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern karena pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya “Course de Linguistique Generale” berisi mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik banyak berpengaruh dalam perkembangan linguistik di ekmudian hari.

Aliran Glosematik
Tokohnya: Louis Hjemslev (1899 – 1965), karena usahanya membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendiri. Hjemslev menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan dan mengakui adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

Aliran Firthian
Namanya John R. Firth (1890 – 1960) guru besar Universitas London yang sangat terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi, karena itu aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama Aliran Prosodi; tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama Aliran Firth, atau Aliran Firthian, atau Aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Firth berpendapat telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

Linguistik
Tokoh: M. A. K. Halliday, karangannya “Categories of the Theory of Grammar”.
Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran ini antara lain:
Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika.
Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme.
Diantara linguis-lingui itu ada hubungan yang baik karena adanya The Linguistic Society of America, yang menerbitkan majalah Language.

Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike.

Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya
Tata Bahasa Transformasi
Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure. Menurut Chomsky tata bahasa harus memenuhi 2 syarat yaitu:
Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan/istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguitik tertentu. Tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa.

Segmantik Generatif
Tokoh: Postal, Lakkoff, Mc Cawly, dan Kiparsky. Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi. Menurut teori semantik generatif, argumen adalah segala sesuatu yang dibicakan: sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dan sebagainya. Jadi, dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstrasikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya.

Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Cese for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach, E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory, terbitan Holt Rinehart dan Winston. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus, yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba.

Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini, antara lain, David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Buah pikiran mereka tentang tata bahasa ini dapat dibaca dalam karangan mereka, antara lain, Lectures onRelational Grammar (1974), “Relational Grammar” dalam syntax and Semantics vol. 13 (1980), dan Studies in Relational Grammar I (1983). Dalam hal ini tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entry), yaitu:
Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;
Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;
Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

Tentang Linguistik di Indonesia
Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, sintaksis, serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda atau bahasa Eropa lainnya, dalam bentuk kamus.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX (buku de Saussure terbit 1913). Awal tahun tujuh puluhan dengan terbitnya buku Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistik modern mulai banyak terjadi. Buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yang sejak tahun 1947 banyak digunakan orang dalam pendidikan formal, mulai ditinggalkan. Kedudukannya diganti oleh buku Keraf, yang isinya memang banyak menyodorkan kekurangan-kekurangan tata bahasa tradisional, dan menyajikan kelebihan-kelebihan analisis bahasa secara struktural.

Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan bermunculannya linguis-lingui Indonesia, baik yang tamatan luar negeri maupun dalam negeri, pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan.

Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia.

Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

1 Response to "Dinar Dwisantoso (1402408092) Sejarah Dan Aliran linguistik"

Nama : Larrysa Devi

Nim : 1402408206

Pada uraian di atas dijelaskan bahwa “telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis”

Mohon dijelaskn lebih terperinci?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: