Cakrabuwana’s Weblog

LARISA DEVI (1402408206) SINTAKSIS

Posted on: Oktober 9, 2008

Nama : Larrysa Devi
No : 1402408206
SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis disebut tata bahasa atau gramatika. Batas keduanya sering kabur, sehingga muncullah istilah morfosintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata. Sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kta lain.
Secra etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjai kelompok kata atau kalimat (dari bahasa Yunani “Sun = dengan”, “tattein = menempatkan”).
6.1 Struktur Sintaksis
Terdiri dari S-P-O-K, dimana fungsi sintaksis tersebut masih kosong, sehingga nantinya diisi oleh kategori dn memiliki peranan tertentu.
Contoh : Nenek melirik kakek tadi pagi
S P O K
Keterangan : tempat kosong, subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nenek, dan seterusnya.
Peran : “Subjek = pelaku, predikat = aktif, objek = sasaran, keterangan waktu = waktu”. Tapi apabila ada perubahan kalimat aktif menjadi kalimat pasif, susunan fungsi berubah, sedangkan perannya tetap.
Sususnan tidak harus urut S-P-O-K, tapi antara P dan O harus urut.
Susunan S-P-O-K tidak harus munculsecara lengkap, minimal punya S dan P.
P berupa v intransitif, maka objek tidak perlu muncul. Tapi kalau v transitif maka di belakang verba harus ada objek, kecuali verba yang secara semantik (meyatakan kebiasaan) atau mengenai orang pertama tunggal/ orang banyak secara umum.
Contoh : Sekretaris itu sedang mengetik (pastinya yang diketik adalah surat).
Menurut Djoko Kertjono: hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis bergantung pada konteksnya seperti kalimat jawaban, kalimat perintah, kalimat seruan.
Mengenai fungsinya, S diisi nomin, P diisi V, O diisi nomina, K diisiadverbia. Peran sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimilikinya.
Urutan kata dalam bahasa Indonesia sangat pentng karena bisa memepengaruhi makna. Sedangkan dalam bahasa latin yang penting adalah bentuk katanya, karena dalam bentuk kata-kata tersebut sudah menyatakan fungsi, peran dan kategorinya.
Ambigu : konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : Buku sejarah baru.
Korektor ada dua : 1) Koordinatif : menghubungkan dua konstikuen yang kedudukannya sama. Contoh : dan, atau, tetapi.
2) K. Subordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat (kalau, meskipun, karena).

6.2 Kata sebagai satuan sinteksis

kata sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi, sebagai penanda kategori, sebagai perangkai.
Kata penuh : kata yang mempunyai makna, merupakan kelas terbuka, dapat berdiri sendiri sebagai satuan (nomina, verba, adjektiva, numeralia).
Kata tugas : kata yang tidak punya makna, tidak punya kemungkinan mengalami proses morfologi kelas tertutup, tidak dapat berdiri sendiri (konjungsi, proposisi)
6.3 Frase
6.3.1 dibuat dari morfem bebas, bukan terikat belum makan, bukan tata boga
Struktur P dan O, bukan S dan P. contoh : Adik mandi bukan frase
Bisa diselipi unsur lain. Contoh : Nenek saya = nenek dari saya
Tidak bisa dipindahkan sendiri
Berpotensi menjadi kalimat minor
Memiliki makna gramatikal, berbeda dengan kata majemuk yang memiliki makna baru
6.3.2 Jenis Frase
6.3.2.1 Frase eksosentrik : komponennya tidak memiliki perilaku yang sama dengan keseluruhannya. Contoh : di pasar (masing-masing komponen tidak bisa menduduki fungsi keterangan)
Frase preposional : komponen pertama preposisi, komponen kedua nomina
Frase eksosentrik nondirektif : komponen 1 artikulus (si, sang, para), komponen kedua nomina, adjektifa, verba.
6.3.2.2 Frase Endosentrik : salah satu komponenbisa mengartikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca.
Kalau dilihat dari inti : frase nomina, frase verba, frase adjektifa, frase numeralia.
6.3.2.3 Frase Koordinatif : dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan sederajat. Contoh : sehat dan kuat.
Frase parataksis : tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit. Contoh : sawah ladang.
6.3.2.4 Frase apositif : kedua komponen saling merujuk, urutan dapat dipertukarkan.
6.3.3 Ciri-ciri Frase
Dapat diperluas : – Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus
Pengungkapan konsep dinyatakan dengan leksikal
Memberi deskripsi secara terperinci
Contoh : kereta – kereta api – kereta api ekspres – dst.
6.4 Klausa
6.4.1 Klausa : satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi produktif (kata + frase) s + P wajib – berpotensi menjadi kalimat.
Beda objek dengan pelengkap
– 25 Berada di belakang verba transitif – 27 Tidak berada di belakang verba transitif
-26 Dapat dijadikan Subjek Objek Pelengkap -28 Tidak dapat dijadikan subjek

6.4.2 Jenis Klausa
Klausa bebas : unsur-unsur lengkap, berpotensi menjadi kalimat mayor.
Klausa terikat : tidak punya potensi menjadi kalimat mayor.
Klausa atasan, klausa bawahan : ada dalam kalimat majemuk.
Klausa non verbal : predikatnya bukan verbal lazim
Klausa verbal : predikatnya berupa verbal
Klausa verbal transitif, intransitif, refleksif, resiprokal.
Klausa nominal : predikat berupa nominal
Klausa adjektifal : predikat berupa adjektif
Klausa adverbal : predikat berupa adverbia
Klausa preposional : predikat berupa frase yang berkategori preposisi (biasanya berubah menjadi klausa verbal yang dilengkapi keterangan).
Klausa numeral : predikat berupa frase numeralia (biasanya berubah menjadi klausa verbal).
6.5 Kalimat
6.5.1 Kalimat : susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, disertai dengan nasi final.
6.5.2 Jenis kalimat
6.5.2.1 Kalimat inti dan kalimat non inti
Kalimat inti : kalimat dasar
Kalimat non inti : sudah mengalami transformasi (pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penambahan dll).
6.5.2.2 Kalimat tunggal : klausanya tunggal
Kalimat majemuk : klausanya lebih dari satu .
Kalimat setara : dihubungkan dengan kojungsi dan, atau, tetapi, lalu.
Kalimat bertingkat : dihubungkan dengan kojungsi kalau, karena, meskipun (campuran koordinatif dan campuran subordinatif)
6.5.2.3 Kalimat mayor : sedikitnya memiliki S + P
Kalimat minor : bisa berupa kata
6.5.2.4 Kalimat verba : predikat berupa verba (verba transitif, intransitif, aktif, pasif, dinamis)
Kalimat non verba : predikat berupa nomina, ajektif, adverbia, numeralia
6.5.2.5 Kalimat bebas : dapat berdiri sendiri (biasanya sebagai pemula paragraf)
Kalimat terikat : tidak dapat berdiri sendiri
6.5.3 Intonasi kalimat : tekanan, tempo, nada
6.5.4 modus, aspek, kala, modalitas, fokus dan diatesis
Modus : pengungkapan suasana psikologis seseorang
Macam : modus deklaratif, modus optatif, modus imperatif, modus obligatif, modus desideratif, modus kondisional.
Aspek : cara pandang terhadap sesuatu kondisi, kejadian, proses.
Macam : aspek kontinuatif, aspek inseptif, aspek progesif, aspek repetitif, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek sesatif.
Kala/ Tenses : menyatakan waktu terjadinya kejadian (lampau, sekarang dan yang akan datang).
Modalitas : menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.
Macam : modalitas intersional, modalitas epistemik, modalitas deontik, modalitas dinamik.
Fokus : menonjolkan bagian kalimat dengan cara memberikan tekanan pada kalimat yang difokuskan, mengedepankan bagian kalimat, memakai partikel “pun, yang, tetang, adalah”, mengontraskan dua bagian kalimat, menggunakan konstruksi posesif.
Diatesis : gambaran pelaku dengan perbuatan.
Macam : diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksi, diatesis resiprokal, diatesis kausatif.
6.6 Wacana
6.6.1 Wacana : satuan bahasa yang lengkap (grametika tertinggi)
6.6.2 Untuk membuat wacana yang kohesif (baik) dan koherens (utuh dan dalam satu ujaran) alat-alat gramatikalnya adalah konjungsi, kata ganti, elipsin (penghilangan kata yang sama).
Sedangkan dalam sematik kita bisa menggunakan : hubungan perbandingan, pertentangan, generik spesifik atau sebaliknya, sebab akibat, tujuan, rujukan.
6.6.3

Wacana
Prosa Puisi
Narasi
Eksposisi
Persuasif
Argumentasi

6.6.4 Sub satuan wacana
Bab

Sub bab

Paragraf terdiri dari kalimat utama dan kalimat penjelas

Sub paragraf
6.7 Catatan mengenai hierarki satuan
Urutan hierarki
Fonem – morfem – kata – frase – klausa – kalimat – wacana

Nama : Larrysa Devi
No : 1402408206
SINTASIS

Morfologi dan sintaksis disebut tata bahasa atau gramatika. Batas keduanya sering kabur, sehingga muncullah istilah morfosintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata. Sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kta lain.
Secra etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjai kelompok kata atau kalimat (dari bahasa Yunani “Sun = dengan”, “tattein = menempatkan”).
6.1 Struktur Sintaksis
Terdiri dari S-P-O-K, dimana fungsi sintaksis tersebut masih kosong, sehingga nantinya diisi oleh kategori dn memiliki peranan tertentu.
Contoh : Nenek melirik kakek tadi pagi
S P O K
Keterangan : tempat kosong, subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nenek, dan seterusnya.
Peran : “Subjek = pelaku, predikat = aktif, objek = sasaran, keterangan waktu = waktu”. Tapi apabila ada perubahan kalimat aktif menjadi kalimat pasif, susunan fungsi berubah, sedangkan perannya tetap.
Sususnan tidak harus urut S-P-O-K, tapi antara P dan O harus urut.
Susunan S-P-O-K tidak harus munculsecara lengkap, minimal punya S dan P.
P berupa v intransitif, maka objek tidak perlu muncul. Tapi kalau v transitif maka di belakang verba harus ada objek, kecuali verba yang secara semantik (meyatakan kebiasaan) atau mengenai orang pertama tunggal/ orang banyak secara umum.
Contoh : Sekretaris itu sedang mengetik (pastinya yang diketik adalah surat).
Menurut Djoko Kertjono: hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis bergantung pada konteksnya seperti kalimat jawaban, kalimat perintah, kalimat seruan.
Mengenai fungsinya, S diisi nomin, P diisi V, O diisi nomina, K diisiadverbia. Peran sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimilikinya.
Urutan kata dalam bahasa Indonesia sangat pentng karena bisa memepengaruhi makna. Sedangkan dalam bahasa latin yang penting adalah bentuk katanya, karena dalam bentuk kata-kata tersebut sudah menyatakan fungsi, peran dan kategorinya.
Ambigu : konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : Buku sejarah baru.
Korektor ada dua : 1) Koordinatif : menghubungkan dua konstikuen yang kedudukannya sama. Contoh : dan, atau, tetapi.
2) K. Subordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat (kalau, meskipun, karena).

6.2 Kata sebagai satuan sinteksis

kata sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi, sebagai penanda kategori, sebagai perangkai.
Kata penuh : kata yang mempunyai makna, merupakan kelas terbuka, dapat berdiri sendiri sebagai satuan (nomina, verba, adjektiva, numeralia).
Kata tugas : kata yang tidak punya makna, tidak punya kemungkinan mengalami proses morfologi kelas tertutup, tidak dapat berdiri sendiri (konjungsi, proposisi)
6.3 Frase
6.3.1 dibuat dari morfem bebas, bukan terikat belum makan, bukan tata boga
Struktur P dan O, bukan S dan P. contoh : Adik mandi bukan frase
Bisa diselipi unsur lain. Contoh : Nenek saya = nenek dari saya
Tidak bisa dipindahkan sendiri
Berpotensi menjadi kalimat minor
Memiliki makna gramatikal, berbeda dengan kata majemuk yang memiliki makna baru
6.3.2 Jenis Frase
6.3.2.1 Frase eksosentrik : komponennya tidak memiliki perilaku yang sama dengan keseluruhannya. Contoh : di pasar (masing-masing komponen tidak bisa menduduki fungsi keterangan)
Frase preposional : komponen pertama preposisi, komponen kedua nomina
Frase eksosentrik nondirektif : komponen 1 artikulus (si, sang, para), komponen kedua nomina, adjektifa, verba.
6.3.2.2 Frase Endosentrik : salah satu komponenbisa mengartikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca.
Kalau dilihat dari inti : frase nomina, frase verba, frase adjektifa, frase numeralia.
6.3.2.3 Frase Koordinatif : dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan sederajat. Contoh : sehat dan kuat.
Frase parataksis : tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit. Contoh : sawah ladang.
6.3.2.4 Frase apositif : kedua komponen saling merujuk, urutan dapat dipertukarkan.
6.3.3 Ciri-ciri Frase
Dapat diperluas : – Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus
Pengungkapan konsep dinyatakan dengan leksikal
Memberi deskripsi secara terperinci
Contoh : kereta – kereta api – kereta api ekspres – dst.
6.4 Klausa
6.4.1 Klausa : satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi produktif (kata + frase) s + P wajib – berpotensi menjadi kalimat.
Beda objek dengan pelengkap
– 25 Berada di belakang verba transitif – 27 Tidak berada di belakang verba transitif
-26 Dapat dijadikan Subjek Objek Pelengkap -28 Tidak dapat dijadikan subjek

6.4.2 Jenis Klausa
Klausa bebas : unsur-unsur lengkap, berpotensi menjadi kalimat mayor.
Klausa terikat : tidak punya potensi menjadi kalimat mayor.
Klausa atasan, klausa bawahan : ada dalam kalimat majemuk.
Klausa non verbal : predikatnya bukan verbal lazim
Klausa verbal : predikatnya berupa verbal
Klausa verbal transitif, intransitif, refleksif, resiprokal.
Klausa nominal : predikat berupa nominal
Klausa adjektifal : predikat berupa adjektif
Klausa adverbal : predikat berupa adverbia
Klausa preposional : predikat berupa frase yang berkategori preposisi (biasanya berubah menjadi klausa verbal yang dilengkapi keterangan).
Klausa numeral : predikat berupa frase numeralia (biasanya berubah menjadi klausa verbal).
6.5 Kalimat
6.5.1 Kalimat : susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, disertai dengan nasi final.
6.5.2 Jenis kalimat
6.5.2.1 Kalimat inti dan kalimat non inti
Kalimat inti : kalimat dasar
Kalimat non inti : sudah mengalami transformasi (pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penambahan dll).
6.5.2.2 Kalimat tunggal : klausanya tunggal
Kalimat majemuk : klausanya lebih dari satu .
Kalimat setara : dihubungkan dengan kojungsi dan, atau, tetapi, lalu.
Kalimat bertingkat : dihubungkan dengan kojungsi kalau, karena, meskipun (campuran koordinatif dan campuran subordinatif)
6.5.2.3 Kalimat mayor : sedikitnya memiliki S + P
Kalimat minor : bisa berupa kata
6.5.2.4 Kalimat verba : predikat berupa verba (verba transitif, intransitif, aktif, pasif, dinamis)
Kalimat non verba : predikat berupa nomina, ajektif, adverbia, numeralia
6.5.2.5 Kalimat bebas : dapat berdiri sendiri (biasanya sebagai pemula paragraf)
Kalimat terikat : tidak dapat berdiri sendiri
6.5.3 Intonasi kalimat : tekanan, tempo, nada
6.5.4 modus, aspek, kala, modalitas, fokus dan diatesis
Modus : pengungkapan suasana psikologis seseorang
Macam : modus deklaratif, modus optatif, modus imperatif, modus obligatif, modus desideratif, modus kondisional.
Aspek : cara pandang terhadap sesuatu kondisi, kejadian, proses.
Macam : aspek kontinuatif, aspek inseptif, aspek progesif, aspek repetitif, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek sesatif.
Kala/ Tenses : menyatakan waktu terjadinya kejadian (lampau, sekarang dan yang akan datang).
Modalitas : menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.
Macam : modalitas intersional, modalitas epistemik, modalitas deontik, modalitas dinamik.
Fokus : menonjolkan bagian kalimat dengan cara memberikan tekanan pada kalimat yang difokuskan, mengedepankan bagian kalimat, memakai partikel “pun, yang, tetang, adalah”, mengontraskan dua bagian kalimat, menggunakan konstruksi posesif.
Diatesis : gambaran pelaku dengan perbuatan.
Macam : diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksi, diatesis resiprokal, diatesis kausatif.
6.6 Wacana
6.6.1 Wacana : satuan bahasa yang lengkap (grametika tertinggi)
6.6.2 Untuk membuat wacana yang kohesif (baik) dan koherens (utuh dan dalam satu ujaran) alat-alat gramatikalnya adalah konjungsi, kata ganti, elipsin (penghilangan kata yang sama).
Sedangkan dalam sematik kita bisa menggunakan : hubungan perbandingan, pertentangan, generik spesifik atau sebaliknya, sebab akibat, tujuan, rujukan.
6.6.3

Wacana
Prosa Puisi
Narasi
Eksposisi
Persuasif
Argumentasi

6.6.4 Sub satuan wacana
Bab

Sub bab

Paragraf terdiri dari kalimat utama dan kalimat penjelas

Sub paragraf
6.7 Catatan mengenai hierarki satuan
Urutan hierarki
Fonem – morfem – kata – frase – klausa – kalimat – wacana

Nama : Larrysa Devi
No : 1402408206
SINTASIS

Morfologi dan sintaksis disebut tata bahasa atau gramatika. Batas keduanya sering kabur, sehingga muncullah istilah morfosintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata. Sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kta lain.
Secra etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjai kelompok kata atau kalimat (dari bahasa Yunani “Sun = dengan”, “tattein = menempatkan”).
6.1 Struktur Sintaksis
Terdiri dari S-P-O-K, dimana fungsi sintaksis tersebut masih kosong, sehingga nantinya diisi oleh kategori dn memiliki peranan tertentu.
Contoh : Nenek melirik kakek tadi pagi
S P O K
Keterangan : tempat kosong, subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nenek, dan seterusnya.
Peran : “Subjek = pelaku, predikat = aktif, objek = sasaran, keterangan waktu = waktu”. Tapi apabila ada perubahan kalimat aktif menjadi kalimat pasif, susunan fungsi berubah, sedangkan perannya tetap.
Sususnan tidak harus urut S-P-O-K, tapi antara P dan O harus urut.
Susunan S-P-O-K tidak harus munculsecara lengkap, minimal punya S dan P.
P berupa v intransitif, maka objek tidak perlu muncul. Tapi kalau v transitif maka di belakang verba harus ada objek, kecuali verba yang secara semantik (meyatakan kebiasaan) atau mengenai orang pertama tunggal/ orang banyak secara umum.
Contoh : Sekretaris itu sedang mengetik (pastinya yang diketik adalah surat).
Menurut Djoko Kertjono: hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis bergantung pada konteksnya seperti kalimat jawaban, kalimat perintah, kalimat seruan.
Mengenai fungsinya, S diisi nomin, P diisi V, O diisi nomina, K diisiadverbia. Peran sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimilikinya.
Urutan kata dalam bahasa Indonesia sangat pentng karena bisa memepengaruhi makna. Sedangkan dalam bahasa latin yang penting adalah bentuk katanya, karena dalam bentuk kata-kata tersebut sudah menyatakan fungsi, peran dan kategorinya.
Ambigu : konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : Buku sejarah baru.
Korektor ada dua : 1) Koordinatif : menghubungkan dua konstikuen yang kedudukannya sama. Contoh : dan, atau, tetapi.
2) K. Subordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat (kalau, meskipun, karena).

6.2 Kata sebagai satuan sinteksis

kata sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi, sebagai penanda kategori, sebagai perangkai.
Kata penuh : kata yang mempunyai makna, merupakan kelas terbuka, dapat berdiri sendiri sebagai satuan (nomina, verba, adjektiva, numeralia).
Kata tugas : kata yang tidak punya makna, tidak punya kemungkinan mengalami proses morfologi kelas tertutup, tidak dapat berdiri sendiri (konjungsi, proposisi)
6.3 Frase
6.3.1 dibuat dari morfem bebas, bukan terikat belum makan, bukan tata boga
Struktur P dan O, bukan S dan P. contoh : Adik mandi bukan frase
Bisa diselipi unsur lain. Contoh : Nenek saya = nenek dari saya
Tidak bisa dipindahkan sendiri
Berpotensi menjadi kalimat minor
Memiliki makna gramatikal, berbeda dengan kata majemuk yang memiliki makna baru
6.3.2 Jenis Frase
6.3.2.1 Frase eksosentrik : komponennya tidak memiliki perilaku yang sama dengan keseluruhannya. Contoh : di pasar (masing-masing komponen tidak bisa menduduki fungsi keterangan)
Frase preposional : komponen pertama preposisi, komponen kedua nomina
Frase eksosentrik nondirektif : komponen 1 artikulus (si, sang, para), komponen kedua nomina, adjektifa, verba.
6.3.2.2 Frase Endosentrik : salah satu komponenbisa mengartikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca.
Kalau dilihat dari inti : frase nomina, frase verba, frase adjektifa, frase numeralia.
6.3.2.3 Frase Koordinatif : dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan sederajat. Contoh : sehat dan kuat.
Frase parataksis : tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit. Contoh : sawah ladang.
6.3.2.4 Frase apositif : kedua komponen saling merujuk, urutan dapat dipertukarkan.
6.3.3 Ciri-ciri Frase
Dapat diperluas : – Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus
Pengungkapan konsep dinyatakan dengan leksikal
Memberi deskripsi secara terperinci
Contoh : kereta – kereta api – kereta api ekspres – dst.
6.4 Klausa
6.4.1 Klausa : satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi produktif (kata + frase) s + P wajib – berpotensi menjadi kalimat.
Beda objek dengan pelengkap
– 25 Berada di belakang verba transitif – 27 Tidak berada di belakang verba transitif
-26 Dapat dijadikan Subjek Objek Pelengkap -28 Tidak dapat dijadikan subjek

6.4.2 Jenis Klausa
Klausa bebas : unsur-unsur lengkap, berpotensi menjadi kalimat mayor.
Klausa terikat : tidak punya potensi menjadi kalimat mayor.
Klausa atasan, klausa bawahan : ada dalam kalimat majemuk.
Klausa non verbal : predikatnya bukan verbal lazim
Klausa verbal : predikatnya berupa verbal
Klausa verbal transitif, intransitif, refleksif, resiprokal.
Klausa nominal : predikat berupa nominal
Klausa adjektifal : predikat berupa adjektif
Klausa adverbal : predikat berupa adverbia
Klausa preposional : predikat berupa frase yang berkategori preposisi (biasanya berubah menjadi klausa verbal yang dilengkapi keterangan).
Klausa numeral : predikat berupa frase numeralia (biasanya berubah menjadi klausa verbal).
6.5 Kalimat
6.5.1 Kalimat : susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, disertai dengan nasi final.
6.5.2 Jenis kalimat
6.5.2.1 Kalimat inti dan kalimat non inti
Kalimat inti : kalimat dasar
Kalimat non inti : sudah mengalami transformasi (pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penambahan dll).
6.5.2.2 Kalimat tunggal : klausanya tunggal
Kalimat majemuk : klausanya lebih dari satu .
Kalimat setara : dihubungkan dengan kojungsi dan, atau, tetapi, lalu.
Kalimat bertingkat : dihubungkan dengan kojungsi kalau, karena, meskipun (campuran koordinatif dan campuran subordinatif)
6.5.2.3 Kalimat mayor : sedikitnya memiliki S + P
Kalimat minor : bisa berupa kata
6.5.2.4 Kalimat verba : predikat berupa verba (verba transitif, intransitif, aktif, pasif, dinamis)
Kalimat non verba : predikat berupa nomina, ajektif, adverbia, numeralia
6.5.2.5 Kalimat bebas : dapat berdiri sendiri (biasanya sebagai pemula paragraf)
Kalimat terikat : tidak dapat berdiri sendiri
6.5.3 Intonasi kalimat : tekanan, tempo, nada
6.5.4 modus, aspek, kala, modalitas, fokus dan diatesis
Modus : pengungkapan suasana psikologis seseorang
Macam : modus deklaratif, modus optatif, modus imperatif, modus obligatif, modus desideratif, modus kondisional.
Aspek : cara pandang terhadap sesuatu kondisi, kejadian, proses.
Macam : aspek kontinuatif, aspek inseptif, aspek progesif, aspek repetitif, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek sesatif.
Kala/ Tenses : menyatakan waktu terjadinya kejadian (lampau, sekarang dan yang akan datang).
Modalitas : menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.
Macam : modalitas intersional, modalitas epistemik, modalitas deontik, modalitas dinamik.
Fokus : menonjolkan bagian kalimat dengan cara memberikan tekanan pada kalimat yang difokuskan, mengedepankan bagian kalimat, memakai partikel “pun, yang, tetang, adalah”, mengontraskan dua bagian kalimat, menggunakan konstruksi posesif.
Diatesis : gambaran pelaku dengan perbuatan.
Macam : diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksi, diatesis resiprokal, diatesis kausatif.
6.6 Wacana
6.6.1 Wacana : satuan bahasa yang lengkap (grametika tertinggi)
6.6.2 Untuk membuat wacana yang kohesif (baik) dan koherens (utuh dan dalam satu ujaran) alat-alat gramatikalnya adalah konjungsi, kata ganti, elipsin (penghilangan kata yang sama).
Sedangkan dalam sematik kita bisa menggunakan : hubungan perbandingan, pertentangan, generik spesifik atau sebaliknya, sebab akibat, tujuan, rujukan.
6.6.3

Wacana
Prosa Puisi
Narasi
Eksposisi
Persuasif
Argumentasi

6.6.4 Sub satuan wacana
Bab

Sub bab

Paragraf terdiri dari kalimat utama dan kalimat penjelas

Sub paragraf
6.7 Catatan mengenai hierarki satuan
Urutan hierarki
Fonem – morfem – kata – frase – klausa – kalimat – wacana


2 Tanggapan to "LARISA DEVI (1402408206) SINTAKSIS"

nama nanang sholikhin
1402408304

Mengapa yerbal transitif membutuhkan objek sedang intranstif tidak?

nama nanang sholikhin
1402408304

Mengapa yerbal transitif membutuhkan objek sedang intranstif tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: