Cakrabuwana’s Weblog

Tugas Bahasa

Posted on: Oktober 9, 2008

Nama :Nanang Sholikhin
Nim : 1402408304

Fonologi
Ketika kita mendengar orang berbicara, kita akan mendengar rentetan bunyi yang terus menerus yang kadang naik turun dan ada jeda sejenak. Runtutan bunnyi ini dapat disegmentasikan yang didasari dengan tingkatan-tingkatan kesatuan yang ditandai dengan adanya jeda yang ada dalam rentetan bunyi. Segmentasi ini selanjutnya dapat dibagi bagi menjadi silabels. Silabels adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya atau sekaligus keduanya.
Runtutan bunyi-bunyi ini selanjutnya dikaji lebih lanjut dalam bidang linguistik oleh Fonologi yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yang artinya bunyi dan logi yang artinya ilmu. Menurut hiaerarki satuan bunyi yang menjadi objek fonologi dibagi dua yakni fenotik dan fenomenik. Secara umum dapat dijelaskan fenotik berarti cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatiakan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan fenomenik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.
Fenotik
Seperti sudah disebut di muka fenotik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses pembuatan bunyi fenotik dibagi menjadi tiga fenotik yakni fenotik artiokularis, fenotik akustik dan fenotik auditoris. Fenotik artikularis mempelajari mekanisme bagaimana alat bicara manusia menghasilkan bunyi bahasa serta klarifikasi. Sedangkan fenotik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa alam. Sedangkan fenotik auditoris mempelajari penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita. Dalam linguistik fenotik yang lebih ditekankan adalah fenotik artikularis, hal ini disebabkan fenotik artikularis yang berkenaan dengan masalah pembentukan bunyi bahasa, fenotik akustik lebih berkenaan dengan ilmu fisika sedangkan fenotik auditoris dengan ilmu kedokteran.
Dalam fenotik artikularis yang pertama harus dibahas adalah alat ucap, yakni yang berfungsi sebagai bunyi bahsa. Bunyi-bunyi yang dihasilkan alat ucap dinamai sesuai alat ucap yang menghasilkan bunyi tersebut, tapi sistem penamaannya dengan bahasa latin misal bunyi yang dihasilkan gigi dinamai dentis sedang mulut labio dan seterusnya. Dan bila buny dihasilkan oleh dua alat ucap maka system penamaannya menggabung kedua nama latin alat tersebut misal bunyi yang dihasilkan oleh gigi dan bibir bagian atas labiodental.
Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan diantaranya tulisan fenotik untuk ejaan fenotik, tulisan fenomis untuk ejaan fenomisdan system aksaraq tertentu untuk ejaan ortografis. Tulisan feotik yang dibua untuk kajian feotik merupakan dibut berdasarkan huruf-hurf aksara latin yang ditambah dan sejumlah modifikasi terhadap huruflatin. Dalam tulisan fenotik melambangkan satu bunyi bahasa berbeda dengan tulisan fenomis hanya yang distingtif saja yang bersimbol.
Bunyi diklasifikasikan menjadi dua yakni bunyi vocal dan bunyi konsonan. Bunyi vocal terbentuk dari arus udara yang melewati pita suara yang terbuka sempit, sehinga menyebabkan pita suara bergetar lalu kemudian arus udara keluar melalui rongga mulut tanpa mendapat hambatan. Bunyi konsonan terbentuk dari arus udara yang melewati pita suara yang terbuka sempit atau terbuka agak lebar kemudian arus udara diteruskan ke ronga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan dari artikulasi tertentu. Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak, yang brsuara terjadi saat pita suara terbuka sedikit dan yang tidak bersuara terjadi saat pita suara terbuka agak lebar.
Klasifikasi vokal, bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidahdan bentuk mulut menurut poisi lidah bisa bersifat vertical dan horizontal. Vertikal dibagi lagi menjadi vokal tinggi,tengah dan rendah. Secara horizontal dibagi menjadi vokal depan, pusat dan belakang. Menurut bentuk mulut dibagi atas vokal bundar dan tak bundar, disebut vokal bundar karena mulut membundar saat mengucakan vokal ini dan sebaliknya mulut tidak membundar waktu mengucapkan vokal.
Diftong atau vokal rangkap keragaman bunyi ini diseut demikaian karena terjadi karena posisi lidah waktu mengucapkan vokal pda awal dan akhir berbeda. Walaupun posisi lidah tidak sama tetapi hanya mengahasilkan satu bunyi hal ini karena hanya terdapat dalam satu silabel. Misalnya (au) pada kata kerbau serta (ai) pada kata landai diftong dibagi dua berdasarkan letak unsurnya. Diftong naik dan diftong turun, disebut diftong naik karena bunyi pertam,a lebih rendah posisinya daripada bunyi kedua. Sebaliknya diftong turun karena unsur pertama lebih tinggi dari pada unsur. Pembagian ini tida menurut posisi lidah melainkan kenyaringan unsur-unsurnya.
Klasifikasi konsonan, pembagian konsonan terdiri dari tiga criteria yakni posisi pita suara,tempat artikulasi dan cara artikulasi. Berdasarkan posisi pita suara bunyi konsonan dibagi menjadi bunyi bersuara dan tidak bersuara. Berdasarkan tempat artikulasi dibagi menjadi bilabial(kedua bibir), laboiodental(gigi bawah dan bibir atas), laminoalveolar(daun lidah dan gusi), dorsovelar(pangkal lidah dan velum). Berdasarkan cara artikulasi bunyi konsonan dibagi atas hambat, geseran., paduan, sengauan, getaran, samping dan hampiran.
Unsur suprasegental dalam fenomenik biasanya dibagi atas 3 bagian yakni tekanan manyangkut keras lunaknya bunyi, nada berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi, jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujaran.
Fenomenik
Seperi yang tertulis diatas fonemenik adalah cabang fonologi yang mengkaji bunyi yang memiliki fungsi sebagai pembeda makna.dalam fonemik ini kita pertama akan mengkaji fonem yakni bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna.
Identifikasi fonem, untuk mengetahui bunyi itu sebagai fonem atau tidak kita harus mencari sebuah satu satuan bahasa biasanya kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan kata yang pertama dengan kata lain kita harus membandingkan dengan pasangan minimalnya. Kalau ternyata kedua satuan bahasa ini berbeda satuan maknanya, makabunyi tersebut adala fonem.
Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari fonem. Pendistribusian alofon terbagi menjadi duayakni bersifat komplementer dan bersifat babas. Yang disebut bersifat komplementer adalah distri busi saling melengkapi distribusi yang tidak dapat dipisahkan meskipun dipisahkan juga tidak akan menimbulkan perubahan makna.Yang dimaksut bersifat pendistribusian bebas adalah alofon alaofon itu dapat digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Kalau diperhatkan bahwa alofon merupakan realisasi dari fonem maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon lain. Dengan kata lain yang nyata dalam bahasa adalah alofon.
Klasifikasi fonem klasifikasi fonem pada dasarnya sama dengan klasifikasi bunyi yakni fonem vokal dan fonem konsonan, bedanya bila bunyi vokal dan konsnan itu banyak sekali maka fonem vokal dan konsonan agak terbatas yakni bunyi yang membedakan makna saja. Fonem-fonem yang merupakan segmentasi dari arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur-usur supra segmental disebut fonem supra semental. Jadi pada tingkatan fonemik ciri-ciri persodi seperti tekanan, durasi serta nada bersifat fungsional atau yang dapat membedakan makna. Penamaannya juga mirip dengan proses penamaan bunyi.
Khasanah fonem, yang dimaksut khasanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa, fonem suatu bahasa tidak tergatung dengan bahasa lain. Perbedaan jumlah ini jua bias terjadikarena perbedaan tafsir para ahli yang mengkaji suatu bahasa.
Perubahan fonem
Hal ini berarti suatu fonem berubah identitasnya menjadi fonem yang lain. Perubahan yang pertama adalah asimilasi, peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yanglain sebagai akibat dari bunyi yang da dilingkungannya. Menurut perubahan identitas fonemnya asimilasi dibagi menjadi dua yakni asimilasi fonemis dan asimilasi fonetis. Menurut letak bunyi yang berubah dan yang mempengaruhi perubahan dibagi menjadi tiga yakni asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilasi resiprok. Perubahan yang kedua yakni netralisasi dan aukifonem. Netralisasi adalah suatu fonem dilafalkan sama tetapi menjadi berbeda waktu dieja karena suatu system bahasa. Aukifonem adalah suatu fonem yang bisa memiliki dua wujud dalam peristilahan linguistik. Umlaut, ablaut dan haromi vokal ketiganya adlah perubahan fonem yang ketiga. Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga menyebabkan vokal menjadi yang lebih tinggi akibat vokal yang brikutnya lebih tinggi. Ablaut adalah perubahan vikal yang kita temukan dala bahasa indo jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal. Berbeda dengan amlaut, amlaut hanya terbatas pada peinggian vokal karena karena pengaruh bunyi berikutnya tinggi. Tidak terbatas eninggian bunyi ablaut bisa juga pemanjangan, pemendekan atau penghilangan vokal. Harmoni vokal hal ini berarti keselarasan vokal yang dikarenakan penambahan imbuhan (misal pada basa jawa akhiran –en) dan perubahan sifat (tunggal menjadi jamak pada bahasa turki) Perubahan yang keempatn yakni kontraksi, kontraksi berarti menyingkat atau memperpendek kata dalam proses percakapan pemendekan ini biasanyahilangnya sebuah fonem atau lebih.
Dari uraian datas kita mengetahi bahwa fonem adalah satuan bunyi terkecil yang fungsional atau berarti dapat membedakan makna serta grahem yakni huruf yang digunakan dari aksara latin untuk menuliskan fonem sesuai sistem bahasa yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: