Cakrabuwana’s Weblog

DIAN FATMASARI 1402408248

Posted on: Oktober 16, 2008


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

DIAN FATMASARI

1402408248

ROMBEL 1

7. TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Makna bahasa juga merupakan satu tataran linguistik. Semantik, dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau di semua tataran yang bangun membangun ini: makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. oleh karena itu, penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama.

Hockett (1954) misalnya, salah seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa ini terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan subsistem fonetik. Subsistem gramatika, fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral. Sedangkan subsistem semantik dan fonemik bersifat periferal. Objek semantik adalah sangat tidak jelas, tak dapat diamati secara empiris, sebagaimana subsistem gramatika (morfologi dan sintaksis). semantik adalah tiak ada artinya, sebab kedua komponen itu, signifian dan signifie, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1. HAKIKAT MAKNA

Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu komponen signifian atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian).

7.2. JENIS MAKNA

Karena bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda.

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’. Dengan contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber dengan dasar baju melahirkan makna gramatikan ‘mengenakan atau memakai baju’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

7.2.2. Makna Referensial dan Non Referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Umpamanya, kata babi bermakna denotatif ‘sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya’.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.

Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif adalah karena kata-kata tersebut berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. Kata babi, misalnya, berasosiasi dengan rasa jijik, haram, dan kotor (bagi yang beragama Islam).

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Pada awalnya yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotatif atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Yang disebut dengan istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya’.

Dua macam idiom, yaitu yang disebut idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebuh menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk-bentuk seperti membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau termasuk contoh idiom penuh. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. misalnya buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Yang disebut peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya, peribahasa ‘seperti anjing dengan kucing’ yang bermakna dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur.

7.3. RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Dalam pembicaraan tentang relasi makna ini biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiquiti, dan redundansi.

7.3.1. Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:

Pertama, faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan.

Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta adalah dua buah kata yang bersinonim.

Ketiga, faktor keformalan. Misalnya, kata uang dan duit adalah dua buah kata yang bersinonim.

Keempat, faktor sosial. Umpamanya, kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim.

Kelima, bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim.

Keenam, faktor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan mengintip adalah sejumlah kata yang bersinonim.

Dari keenam faktor yang dibicarakan di atas, bisa disimpulkan bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.

7.3.2. Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya, kata buruk berantonim dengan kata baik.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:

Pertama, antonimi yang bersifat mutlak. Umpamanya kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.

Kedua, antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonimi secara relatif.

Ketiga, antonimi yang bersifat relasional. Umpamanya antara kata membeli dan menjual, antara kata suami dan istri, dan antara kata guru dan murid. Antonimi jenis ini disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

Keempat, antonimi yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial; juga antara kata gam dan kilogram.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna bagian tubuh manusia.

Dalam kasus polisemi ini, biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya, makna leksikalnya, makna denotatifnya, atau makna konseptualnya.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satu ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna “inai” dan kata pacar yang bermakna “kekasih”.

Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Yang dimaksud dengan homofoni adalah kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatian ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda.

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Dalam bahasa Indonesia bentuk-bentuk homografi hanya terjadi karena ortografi untuk fonem /e/ dan fonem /ә/ sama lambangnya yaitu huruf <e>.

Patokan pertama yang harus dipegang adalah bahwa homonimi adalah dua buah bentuk ujaran atau lebih yang “kebetulan” bentuknya sama, dan maknanya tentu saja berbeda. Sedangkan polisemi adalah sebuah bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Umpamanya antara kata merpati dan kata burung. Di sini kita lihat makna kata merpati tercakup dalam makna kata burung. Merpati adalah burung; tetapi burung bukan hanya merpati.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru.

Ketaksaan dalam bahasa lisan biasanya adalah karena ketidakcermatan dalam menyusun konstruksi beranaforis. Yang perlu diingat adalah konsep bahwa homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan, ambiquiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7. Redundansi

Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika.

7.4. PERUBAHAN MAKNA

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah.

Faktor penyebab perubahan makna

Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi

Kedua, perkembangan sosial budaya

Ketiga, perkembangan pemakaian kata. Setiap bidang kegiatan keilmuan biasanya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidangnya itu.

Keempat, pertukaran tanggapan indra. Misalnya, rasa getir, panas, dan asin ditangkap dengan alat indra perasa, yaitu lidah.

Kelima, adanya asosiasi. Yang dimaksud dengan adanya asosiasi di sini adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu, sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu.

Perubahan makna kata atau satuan ujaran itu ada beberapa macam. Ada perubahan yang meluas, ada yang menyempit, ada juga yang berubah total. Perubahan yang meluas, artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna “A”, maka kemudian menjadi bermakna “B”.

Perubahan makna yang menyempit, artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus.

Perubahan makna secara total, artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.

7.5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata atau leksem-leksem dalam setiap bahasa dapat dikelompokkan atas kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kesamaan ciri semantik yang dimiliki kata-kata itu. Umpamanya, kata-kata kuning, merah, hijau, biru, dan ungu berada dalam satu kelompok, yaitu kelompok warna.

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal.

7.5.1. Medan Makna

Yang dimaksud dengan medan makna (semantic domain, semantic field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna, nama-nama perabot rumah tangga.

Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompokkan dalam satu medan makna, bedasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu.

Kelompok set menunjuk pada hubungan paradigmatik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa disubstitusikan. Sekelompok kata yang merupakan satu set biasnya mempunyai kelas yang sama, dan tampaknya juga merupakan satu kesatuan. Umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar artinya bagi kita dalam memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam suatu masyarakat bahasa.

7.5.2. Komponen Makna

Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut komponen makna), yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu, berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpamanya, kata ayah memiliki komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, dan /+punya anak.

Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim. Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia.

Kemudian, oleh Chomsky (1965) prinsip-prinsip analisis yang dilakukan Roman Jacobson dan para ahli antropologi itu digunakan untuk memberi ciri-ciri gramatikal dan ciri-ciri semantik terhadap semua morfem dalam daftar morfem yang melengkapi tata bahasa generatif transformasinya.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

pada 7.5.2. telah disebutkan bahwa berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Contoh:

Ÿ Kambing yang Pak Udin terlepas lagi

Ÿ Segelas kambing minum setumpuk air

Ÿ Kambing itu membaca komik

Ÿ Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta orang

Ketidakberterimaan kalimat Kambing yang Pak Udin terlepas lagi adalah karena kesalahan gramatikal, yaitu adanya konjungsi yang antara kambing dan Pak Udin.

Kalimat Segelas kambing minum setumpuk air tidak berterima bukan karena kesalahan gamatikal tetapi karena kesalahan persesuaian leksikal.

Ketidakberterimaan kalimat Kambing itu membaca komik adalah karena tidak ada persesuaian antara kata kambing sebagai pelaku dengan kata membaca sebagai perbuatan yang dilakukan kambing itu.

Mari kita melihat kembali kalimat ‘segelas kambing minum setumpuk air’ dan kalimat ‘kambing itu membaca komik’. Kedua kalimat itu tidak berterima, bukanlah karena kesalahan gramatikal maupun informasi, melainkan karena kesalahan semantik. Kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik di antara konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (3) : SEMANTIK

Semantik dengan objeknya, yakni makna berada di seluruh atau di semua tataran bangun membangun ini. Makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Oleh karena itu, penanaman tataran untuk semantik agar kurang tepat sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya itu tidak sama.

Subsistem gramatik, fonologi dan morfofemik bersifat sentral. Subsistem semantik dan fonetik bersifat periperal. Subsistem semantik bersifat periferal karena makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tidak dapat diamati secara empiris. Tetapi sejak Chomsky, Bapak linguistik transformasi menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik, semantik tidak lagi periferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya.

7.1. Hakikat Makna

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu signifian “yang mengartikan” dan signifie “yang diartikan”

Jadi makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada tanda linguistik. Tanda linguistik bisa berupa kata atau leksem maupun morfem.

Banyak pakar juga menyebutkan bahwa makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya, wacananya dan situasinya. Karena bahasa itu bersifat arbitrer (tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut ð kuda kenapa tidak daku. Maka hubungan makna dan kata juga bersifat arbitrer.

7.2. Jenis Makna

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna sebenarnya makna yang sesuai dengan hasil observasi kita, maka apa adanya atau makna yang ada dalam kamus.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses afikasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal “memakai baju”.

Makna kontekstual adalah makna sebuak leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh: Rambut di kepala nenek belum ada yang putih

Sebagai kepala sekolah dia sudah berwibawa

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

7.2.2. Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata disebut bermakna referensial kalau ada referensi-nya atau acuannya. Misal kuda, gambar, merah. Kata-kata yang tidak mempunyai referens, misal dan, atau, karena adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial.

Berkenaan dengan acuan, kata-kata deiktik adalah kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini dan di situ.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

Konetasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, daerah satu dengan yang lain.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata atau leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaannya makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Berbeda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.

Contoh: membanting tulang dengan makna bekerja keras.

Ada dua macam idion, yaitu idion penuh dan idiom sebagian.

Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan.

Misal: membanting tulang, meja hijau.

Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri.

Misal: daftar hitam, buku putih.

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

7.3. Relasi Makna

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

Dalam pembicaraan tentang relasi makna biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, hiponimim ambiquiti dan redundansi.

7.3.1. Sinonim

Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Itu terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

Faktor waktu, misal hulubalang dengan komandan

Faktor tempat, misal saya dengan beta

Faktor keformalan, misal uang dengan duit

Faktor sosial, misal saya dengan aku

Faktor bidang kegiatan, misal matahari dengan surya

Faktor nuansa makna, misal melihat, melirik, menonton, meninjau,

dan mengintip.

7.3.2. Antonim

Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan beberapa jenis, antara lain:

1. Antonimi yang bersifat mutlak. Misalnya hidup dengan mati

2. Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Misal besar dengan kecil

3. Antonimi yang bersifat relasional. Misal, suami dengan istri.

4. Antonimi yang bersifat hierarkial. Misal, gram dengan kilogram.

Ada satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu disebut antonimi majemuk.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Dalam kasus polisemi, biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya, yang lain adalah makna yang dikembangkan.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Pada homonimi adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaannya.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Bang “abang” dengan bank “lembaga keuangan”

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografi-nya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh kata teras /taras/ yang maknanya bagian serambi rumah.

Untuk membedakan homonimi atau polisemi adalah maknanya. Jika polisemi maknanya ada hubungannya satu sama lain. Homonimi maknanya tidak ada hubungan sama sekali.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misal kata merpati dengan kata burung. Maka kata merpati tercakup dalam makna kata burung. Makna kata merpati berhiponim dengan burung berhipernim dengan merpati.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquisi adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.

7.3.7 Redundansi

Redundansi biasanya diartikan berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misal, bola itu ditendang oleh Dika. Kata oleh inilah yang dianggap redundans karena bisa dibuat kalimat bola ditendang Dika.

7.4. Perubahan Makna

Secara sinkronis atau masa yang relatif singkat makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi secara diakronis atau masa yang relatif lama ada kemungkinan dapat berubah yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

1. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi

2. Perkembangan sosial budaya

3. Perkembangan pemakaian kata

4. Pertukaran tanggapan indra

5. Adanya asosiasi

Dalam pembicaraan mengenai perubahan makna ini biasanya dibicarakan juga usaha untuk “menghaluskan” atau “mengkasarkan” ungkapan.

Ungkapan untuk menghaluskan disebut eutemia. Dan usaha untuk mengkasarkan disfemia.

7.5. Medan Makna dan Komponen Makna

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim, dimana kata-kata yang berada dalam satu medan makna.

Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

7.5.1. Medan Makna

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpama kata ayah mempunyai komponen maka /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Ketidakberterimaan sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Contoh:

1. Kambing yang Pak Udin terlepas lagi

Ketidakberterimaan kalimat tersebut adalah karena kesalahan gramatikal, yaitu adanya konjungsi yang antara kambing dan Pak Udin.

2. Segelas kambing minum setumpuk air

Ketidakberterimaan kalimat ini bukan karena kesalahan gramatikal, tetapi karena kesalahan persesuaian klasikal.

3. Kambing itu membaca komik

Kalimat ini tidak berterima karena tidak ada persesuaian semantik antara kata kambing sebagai pelaku dengan kata membaca sebagai perbuatan yang dilakukan kambing itu.

4. Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta jiwa

Ketidakberterimaan kalimat ini adalah karena kesalahan informasi.

Kalimat (2) dan (3) tidak berterima karena kesalahan semantik, kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik di antara konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

Analisis persesuaian semantik dan sintaktik ini tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara terperinci.

Selain diperlukan keterperincian analisis, masalah, metafora, tampaknya juga perlu disingkirkan, sebab kalimat-kalimat metaforis seperti (5) adalah berterima 5 bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: