Cakrabuwana’s Weblog

INDAH NOVITA 1402408024

Posted on: Oktober 16, 2008


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK (3) : SINTAKSIS

Pada bab terdahulu sudah disebutkan bahwa morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain atau unsur-unsur lain sebagai ujaran.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu Sun yang berarti “dengan” dan Tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.

6.1. STRUKTUR SINTAKSIS

Kelompok istilah yang pertama yaitu : subyek, predikat, objek dan keterangan adalah peristilahan yang berkenaan dengan fungsi sintaksis.

Kelompok istilah kedua yaitu istilah nomina, verba, ajektiva dan numeralia adalah peristilahan yang berkenaan dengan kategori sintaksis.

Kelompok istilah ketiga yaitu istilah pelaku, penderita dan penerimaan adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis.

Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan S.P.O dan K. Banyak pakar yang mengatakan bahwa struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Sedangkan objek dan keterangan boleh tidak muncul. Ada pakar lain yaitu Chafe (1970) yang menyatakan bahwa yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Bagi Chafe perdikat harus selalu berupa verba atau kategori lain yang diverbakan. Verba transitif adalah verba yang di belakangnya tidak perlu memunculkan sebuah objek. Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu muncul yaitu verba yang secara semantik menyatakan kebiasaan atau mengenai orang pertama tunggal atau orang banyak pada umumnya.

Kata merupakan verba kopula yang sepadan dengan to be dalam bahasa Inggris.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh:

Urutan kata yaitu letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis.

Bentuk kata, sebuah kata yang sama dalam bahasa fleksi mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda untuk menduduki fungsi subjek, objek atau fungsi lainnya.

Intonasi, perbedaan modus kalimat bahasa Indonesia tampaknya lebih ditentukan oleh intonasi daripada komponen segmentalnya. Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi berupa nada naik dan tekanan.

Konektor, biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morgem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. Konektor bertugas menghubungkan satu konstituan dengan konstituan lain, baik yang berada di dalam atau di luar kalimat. dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya 2 macam konektor, yaitu konektor koordinatif dan konektor subordinatif.

Konektor koordinatif adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya atau sederajat konjungsinya dan, atau, tetapi.

Konektor subordinatif yaitu konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konjungsinya kalau, meskipun dan karena.

6.2. Kata Sebagai Satuan Sintaksis

Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar, namun dalam tataran sintaksis merupakan satuan terkecil. Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis kata berperan sebagai pengisi fungsi, penanda kategori dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari suatu sintaksis.

Dalam pembicaran kata sebagai pengisi suatu sintaksis, pertama kita bedakan adanya 2 macam kata yaitu penuh (fullword) dan kata tugas (function word). Kata penuh yaitu kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan.

Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan dalam penuturannya tidak dapat bersendiri.

Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, verba, adjektiva, adverbia dan numeralia. Sedang yang termasuk tugas adalah kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Kata-kata yang termasuk kata penuh memang mempunyai kebebasan yang mutlak, sehingga dapat mengisi fungsi-fungsi sintaksis. sedang yang termasuk kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas sesuai namanya kata tugas selalu terikat dengan kata yang ada di belakangnya (untuk preposisi) atau yang berada di depannya (untuk posposisi) dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi). Kecuali barangkali, kalau preposisi atau konjungsi itu menjadi topik pembahasan tentu akan tampak bebas. Dari pembicaraan beda antara kata penuh dengan kata tugas di atas tampak pada kita bahwa hanya kata penuh sajalah yang dapat mengisi fungsi-fungsi sintaksis.

6.3. FRASE

Dalam sejarah studi linguistik istilah frase banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda-beda. Disini istilah frase digunakan sebagai satuan sintaksis tingkat berada di bawah satuan klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata.

6.3.1. Pengertian Frase

6.3.2.1. Frase Eksosentrik

Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

Frase eksosentrik biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif komponen utamanya berupa preposisi seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berupa kata yang biasanya berkategori nomina. Frase eksosentrik yang non direktif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti si dan sang atau kata lain seperti yang, para dan kaum. Sedang kelompok keduanya berupa kata yang berkategori nominasi verba, atau adjektiva.

6.3.2.2. Frase Endosentrik

Frase endosentrik adalah frase yan salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Frase endosentrik ini lazim juga disebut frase modifikatif karena frase keduanya yaitu komponen yang bukan inti atau hulu mengubah makna komponen inti.

Selain itu frase endosentrik juga disebut frase subordonadif karena salah satu komponennya yaitu yang merupakan inti frase berlaku sebagai komponen atasan sedang komponen lainnya sebagai bawahan.

6.3.2.3. Frase Koordinatif

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat. Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit biasanya disebut frase parataksis.

6.3. Perluasan Frase

Frase itu dapat diperluas, maksudnya frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Dalam bahasa Indonesia perluasan frase ini tampaknya pfoduktif, antara lain karena :

a. Untuk menyatakan konsep-konsep khusus, sangat khusus atau sangat khusus sekali.

b. Pengungkapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkaran dan pembatas tidak dinyatakan dengan afik melainkan dengan unsur leksikal.

c. Perluasan frase dalam bahasa Indonesia adalah keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap suatu konsep terutama untuk konsep nomina.

6.4. KLAUSA

Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di atas tataran kalimat.

6.4.1. Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa tuntunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Selain itu fungsi predikat yang harus ada dalam konstruksi klausa ini, fungsi subjek boleh dikatakan bersifat wajib sedang yang lain tidak wajib.

Klausa berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib yaitu subjek dan predikat. Selain subjek dan predikat yang bersifat wajib hadir itu ada pula unsur yang boleh ada dan tidak yaitu :

Objek ð bersifat wajib kalau predikatnya berupa verba transitif.

Pelengkap ð bagian dari predikat verbal (bukan verba transitif)

Keterangan ð merupakan bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan.

6.4.2. Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya :

a. Klausa Bebas

Yaitu klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurang nya mempunyai subjek dan predikat.

b. Klausa Terikat

Yaitu klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap.

Berdasarkan kategori unsur segmentalnya yang menjadi predikat dibedakan:

a. Klausa verbal yaitu klausa yang predikatnya berkategori nomina

b. Klausa nominal yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina

c. Klausa adjektival yaitu klausa yang predikatnya berupa adjektival

d. Klausa preposisional yaitu klausa yang predikatnya berupa frase yang berkatagori preposisi.

f. Klausa numeral adalah klausa yang subjeknya terikat di dalam predikatnya.

6.5. KALIMAT

6.5.1. Pengertian Kalimat

Kalimat adalah Susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Yang penting atau yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final, sebab konjungsi hanya ada kalau diperlukan.

6.5.2. Jenis Kalimat

6.5.2.1. Kalimat inti dan kalimat non inti

Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif.

Kalimat non inti = kalimat inti + proses transformasi

6.5.2.1. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang klausanya hanya satu.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang klausanya lebih dari satu.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat itu dibedakan adanya:

Kalimat majemuk dibagi menjadi 3 :

a. Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama atau sederajat.

b. Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status tidak sederajat. Konjungsinya: kalau, ketika, meskipun, karena, namun.

c. Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri dari 3 klausa atau lebih, mengandung kalimat majemuk koordinatif dan subordinatif.

S P O K (sebab)

Klausa 1 | Klausa 2 + Klausa 3

3. Kalimat mayor dan kalimat minor (berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat)

Kalimat mayor adalah kalimat yang klausanya hanya terdiri subyek saja, predikat, obyek atau keterangan saja. bisanya merupakan jawaban suatu pertanyaan.

4. Kalimat verbal dan kalimat non verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata/frase yang berkategori verba.

Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori nonverba yaitu meliputi nominal, adjektival, adverbial, dan numeralial.

Kalimat verbal ada bermacam-macam jenis antara lain:

Ÿ Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang biasanya diikuti oleh sebuah obyek kalau verba tersebut bersifat bitransitif.

Ÿ Kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang tidak memiliki objek.

Ÿ Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja pasif, ditandai dengan prefiks di- dan diper-

Kalimat aktif anti pasif dan kalimat pasif anti aktif karena adanya kalimat aktif yang tidak bisa dipasifkan dan kalimat pasif yang tidak bisa diaktifkan.

Ÿ Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Ÿ Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya bukan verba.

5. Kalimat bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konfeks lain yang menjelaskannya.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks konjungsi yang digunakan maknanya, oleh karena itu dan jadi.

6.5.3. Intonasi Kalimat

Tekanan, nada, atau tempo bersifat fonemis pada bahasa tertentu. Artinya : ketiga unsur suprasegmental dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Dalam bahasa Indonesia intonasi hanya berlaku pada tataran sintaksis.

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan sebuah kalimat dari sebuah klausa sebab bisa dikatakan kalimat minus intonasi sama dengan klausa, jadi jika sebuah kalimat ditanggalkan bisa menjadi klausa. Contoh: intonasi.

Bacalah buku itu !

2 – 32 t / 21 / t #

n = naik

t = turun

/ = tekanan

Tekanan berbeda menyebabkan intonasi yang berbeda sehingga menimbulkan arti yang berbeda pula.

6.5.4. Modus, Aspek, Kala, Modalitas dan Diatesis

6.5.4.1. Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembaca atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus, antara lain:

1. Modus indikatif atau modus deklaratif yaitu modus yang menunjuk-kan sifat obyektif atau netral.

2. Modus optatif yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan.

3. Modus imperaktif yaitu modus yang menyatakan perintah, larangan atau tegahan.

4. Modus introgatif yaitu modus yang menyatakan pertanyaan.

5. Modus obligatif yaitu modus yang menyatakan keharusan.

6. Modus desideratif yaitu modus yang menyatakan keinginan/kemauan

7. Modus kondisional yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

6.5.4.2. Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses.

Macam-macam aspek, antara lain:

1. Aspek kontinuatif yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung

2. Aspek insentif yaitu yang menyatakan peristiwa/kejadian yang baru dimulai.

3. Aspek progresif yaitu yang menyatakan perbuatan yang sedang berlangsung.

4. Aspek repetitif yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang.

5. Aspek prefektif yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai.

6. Aspek imprefektif yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.

7. Aspek sesatif yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir

6.5.4.3. Kala

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat. Biasanya menyatakan waktu kini, sekarang dan yang akan datang.

6.5.4.4. Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicaraan terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, keadaan dan peristiwa atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

Macam-macam modalitas

1. Modalitas intensional : modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan atau juga ajakan.

2. Modalitas epistemik : modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian dan keharusan.

3. Modalitas deontik : modalitas yang menyatakan kerajinan/ keperkenanan.

4. Modalitas dinamik : modalitas yang menyatakan kemampuan.

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

Cara memfokuskan diri pada kalimat

1. Memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan.

2. Mengedepankan bagian kaliman yang difokuskan.

3. Memakai partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

4. Mengontraskan dua bagian kalimat.

5. Menggunakan konstruksi posesif anarforis gerateseden.

6.5.4.6. Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dilakukan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis antara lain:

1. Diatesis aktif yakni jika subyek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.

2. Diatesis pasif jika subyek menjadi sasaran perbuatan.

3. Diatesis reflektif : jika suatu subyek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

4. Diatesis resiprokal : jika subyek yang terdiri dari 2 pihak berbuat tindakan berbalasan.

5. Diatesis kausatif : jika subyek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu.

6.6. WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

Kekoherensian yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut.

Kekoherensian wacana dilakukan dengan :

1. Mengulang kata kunci

2. Menggunakan konjungsi

3. Menggunakan kata ganti

6.6.2. Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang digunakan untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain:

1. Konjungsi : menghubungkan antar kalimat antar paragraf.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis.

3. Menggunakan elipsis : penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.

Sebuah wacana kohesif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan pelbagai aspek semantif. Caranya:

1. Menggunakan hubungan pertentangan

2. Menggunakan hubungan generik-spesifik/sebaliknya

3. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat

4. Menggunakan hubungan sebab akibat diantara isi kedua bagian kalimat

5. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana

6. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat pada satu wacana.

6.6.3. Jenis Wacana

Jenis wacana berkenaan sarananya:

1. Wacana lisan

2. Wacana tulisan

Jenis wacana dilihat dari penggunaan bahasa

1. Wacana prosa

2. Wacana puisi

Wacana puisi ini dilihat dari penyampaian isinya dibedakan menjadi:

1. Wacana narasi bersifat menceritakan sesuatu topik atau hal.

2. Wacana eksposisi bersifat memaparkan topik atau fakta.

3. Wacana persuasi bersifat mengajak, menganjurkan atau melarang.

4. Wacana argumentasi bersifat memberi argumen atau alasan terhadap sesuatu hal.

6.6.4. Subsatuan Wacana

Subsatuan wacana meliputi:

1. Bab

2. Subbab

3. Paragraf

4. Subparagraf

6.7. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Urutan hierarki adalah urutan normal teoritis. faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan.

1. Pelompatan tingkat

2. Pelapisan tingkat

3. Penurunan tingkat

Bagian urutan hierarki satuan

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • cakrabuwana: Dari : Dita Priska P.S (1402408072) Untuk : Mita Yuni H (1402408331) menurut saya resume yang anda buat cukup bagus dan lengkap. semua sub bab dij
  • cakrabuwana: Dari : Ruwaida Hikmah (1402408236) Buat : Titis Aizah (1402408143) Menurut saya resume yang anda buat sudah cukup bagus dan sistematis. Setiap sub
  • cakrabuwana: cakra data yg km upload da yg slh(namanya keliru) di data upload tlsnnya 'linguistik morfologi winda (seharusnya namanya LIHAYATI HASANAH) tlg di betu

Kategori

%d blogger menyukai ini: